Waktu itu, aku duduk di bangku kelas empat SD. Usia masih kecil, tapi beban hidup rasanya sudah seperti orang dewasa. Sepulang sekolah, ketika anak-anak lain pulang bermain atau menonton televisi, aku langsung berganti pakaian dan membantu ibu mencari kayu bakar lalu dilanjut menyiapkan dagangan kecil kami: es potong buatan juragan kaya tak jauh dari rumah.
Setiap siang, aku membawa termos plastik berisi es potong dan berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya, kadang juga ke pasar atau pinggir jalan, berharap dagangan laku dan bisa habis hari itu juga walau kadang hingga sore masih tersisa beberapa biji.
Pagi harinya, aku pergi ke sekolah dengan mengenakan sepatu. Bukan karena gaya, tapi karena memang itu satu-satunya alas kaki yang aku punya. Sepatu itu adalah sepatu bekas pemberian dari tetangga, bekas dipakai anaknya yang sudah tidak pas lagi. Sepatunya sudah aus, bagian tengahnya sudah tipis, dan sol sepatunya sering lepas. Pernah suatu hari, saat upacara bendera, sol sepatunya lepas di tengah lapangan. Aku berdiri kaku, menahan malu, tapi juga tak tahu harus bagaimana. Setelah upacara selesai, salah satu guru memanggilku, bukan untuk dimarahi, melainkan untuk memberiku semangat dengan kondisi yang sedang kualami. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu guru yang selalu peduli dan selalu memberi semangat kepada anak didiknya.
Keesokan harinya, karena sepatu yang rusak dan belum sempat dibetulkan solnya terpaksa aku memakai alas kaki sandal jepit untuk berangkat ke sekolah. Peraturan di sekolah, murid-murid tidak diperbolehkan memakai sandal jepit sampai memasuki halaman sekolah. Aku pakai hanya sampai depan gerbang sekolah dan sandal jepit aku masukkan ke kantong kresek karena saat itu semua murid hanya dibolehkan memakai sepatu atau sama sekali tidak memakai alas kaki (nyeker).
Meski kondisi begitu, aku tak pernah malas sekolah. Justru aku merasa harus lebih rajin daripada anak lain. Aku tak bisa berharap banyak dari nasib, tapi aku bisa memilih untuk berjuang lebih keras. Meskipun nilai raporku jarang masuk lima besar, aku terus belajar. Setiap pembagian rapor, bapak datang mengenakan kemeja satu-satunya yang dimilikinya, yang sering dipakai saat ada undangan atau perkumpulan. Ia duduk diam di belakang kelas, tak banyak bicara, tapi aku tahu hatinya mekar seperti bunga yang baru tumbuh.
Pernah ada seorang guru berkata, “Trisno, kamu ini pintar. Terus semangat ya, nanti bisa jadi orang besar.” Kata-kata itu terus kuingat, seperti semacam jimat. Mungkin guru itu lupa pernah mengatakannya, tapi bagiku, itu adalah doa yang terus kubawa sampai hari ini.
Berjualan es potong setelah sekolah bukan satu-satunya pekerjaanku. Kadang aku juga bantu tetangga angkat air, belanja minyak tanah di warung, atau menyapu halaman rumahnya. Semua pekerjaan kulakukan asal halal, asal bisa membantu keluarga. Tak jarang, aku pulang dalam keadaan letih, baju bau matahari, tangan belepotan es mencair, tapi hati tetap ringan.
Di rumah, aku sering belajar di bawah cahaya lampu minyak. Listrik di dusun kami waktu itu masih jarang. Jadi aku siapkan sumbu dan botol bekas yang sudah diisi minyak tanah. Di situlah aku menghafal pelajaran, menyalin catatan, dan menulis cita-cita di belakang buku: “Aku ingin jadi seorang guru. Supaya anak-anak seperti aku tak merasa rendah diri.”
Dan dalam hidup yang sederhana ini, satu hal yang aku yakini: pendidikan adalah tiket untuk keluar dari kemiskinan. Mungkin aku hanya anak kecil bersandal jepit yang berjualan es potong, tapi aku percaya, suatu hari kelak, aku bisa berdiri sejajar dengan siapa pun, dengan kepala tegak, bukan karena harta, tapi karena ilmu.
Kadang aku bawa termos berisi es potong itu keliling kampung sambil melirik ke arah lapangan kecil tempat teman-temanku biasa bermain kelereng atau layangan. Di sanalah aku sering berdiri di pinggir, tak ikut bermain, hanya menonton sambil berharap ada di antara mereka yang akan memanggil, “Trisno, beli es satu dong!”
Aku ingat betul bagaimana rasanya berdiri lama di bawah panas matahari dengan tangan terus memegang termos kecil itu. Kadang rasanya ingin ikut duduk bersama mereka, ikut bermain dan tertawa, tapi aku harus menahan diri. Kalau es mencair, jualanku rugi. Kalau tidak laku, aku pulang dengan tangan hampa. Jadi aku menunggu, menunggu sambil berpura-pura tertarik pada permainan mereka, padahal mataku terus mengawasi siapa yang mulai terlihat haus atau lelah.
Pernah suatu sore, aku melihat mereka asyik main kelereng. Sorak sorai terdengar setiap kali ada yang berhasil “makan” kelereng lawan. Aku duduk tak jauh dari mereka, menaruh termos es potong di sebelahku, sambil sesekali membuka tutupnya untuk memastikan esnya masih keras. Di dalam hati, aku berdoa semoga ada yang menoleh.
Tiba-tiba seorang teman mendekat dan bertanya, “Es rasa apa, No?”
“Lemon dan kacang hijau,” jawabku cepat, dengan semangat yang seketika naik.
“Berapa harganya?”
“Sepuluh perak satu,” kataku. Lalu dengan cepat ia balik memanggil teman-temannya. Beberapa dari mereka ikut mendekat. Hari itu aku berhasil menjual tujuh batang es, itu sudah termasuk rekor untuk ukuran hari biasa. Waktu mereka menikmati es sambil tetap main kelereng, aku ikut duduk dan tertawa bersama. Meski aku tidak ikut main, rasanya seperti ikut jadi bagian dari mereka.
Tapi tidak setiap hari seberuntung itu. Ada kalanya aku keliling kampung sampai sore menjelang, tapi tak satu pun terjual. Pulang ke rumah dengan wajah lesu, membawa kembali es yang sudah setengah mencair. Ibu akan menyambutku dengan senyum tipis sambil berkata, “Nggak apa-apa, besok dicoba lagi.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menyeka kekecewaanku. Keesokan harinya aku bangun lagi, setelah pulang sekolah membawa termos lagi, dan menunggu lagi, menunggu kesempatan, menunggu pembeli, dan menunggu waktu di mana hidup akan berubah.