CHAPTER 7
MENYULAM MIMPI LEWAT BUKU DAN DOA

     Langit Jakarta semakin panas memasuki semester akhir. Jalanan ramai, kelas-kelas kampus mulai sepi dari mahasiswa yang sibuk menyelesaikan tugas akhir dan skripsi. Aku, Trisno, masih setia dengan ritme hidupku: mengajar, kuliah, mengasuh anak, dan kini mulai menulis skripsi.

     Di tengah kelelahan dan kesibukan itu, aku selalu mencari waktu luang. Bukan untuk duduk di kantin atau nongkrong di taman kampus seperti teman-teman seangkatanku, tapi untuk mendatangi perpustakaan-perpustakaan di sekitar Jakarta. Tak hanya perpustakaan kampus UHAMKA, tapi juga Perpustakaan Nasional, perpustakaan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dan sesekali ke perpustakaan British Council di Jl Jend.         Sudirman kota Jakarta jika tidak mendapatkan referensi di perpustakaan kampus.

     Aku datang dengan tas berisi catatan dan buku referensi lama, duduk di sudut yang tenang, dan membuka buku catatan yang sudah mulai penuh lembar halamannya. Di sanalah aku menyusun kata demi kata untuk skripsi yang menjadi gerbang akhir menuju gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris.

     Skripsi itu bukan sekadar syarat kelulusan bagiku. Ia adalah bukti bahwa mimpi itu nyata, bahwa perjuangan bertahun-tahun bisa terwujud lewat ilmu yang ditulis dan dikaji dengan serius.

     Saat banyak teman memilih rehat, tertawa lepas di kantin, aku justru menenangkan diri dalam hening lembar-lembar buku tebal berbahasa Inggris. Bukan karena aku tak ingin bersosialisasi, tapi karena waktuku terbatas. Aku harus membagi energi dengan sangat hati-hati antara mengajar, kuliah, menjadi suami, ayah, dan mahasiswa yang sedang menyusun karya ilmiah.

     Setiap kali aku merasa lelah atau mulai kehilangan semangat, aku buka kembali catatan kecil yang selalu kusimpan di dompet, tulisan tanganku sendiri yang ditulis jauh sebelum kuliah dimulai:

“Kelak, gelar ini bukan hanya untukku. Tapi untuk Ayah dan Ibu yang tak pernah menyerah menyekolahkanku. Untuk istriku yang menemaniku dari nol. Dan untuk anakku, agar tahu bahwa ayahnya pernah berjuang keras demi masa depan.”

     Tulisan itu menjadi penyemangat dalam diam, terutama saat tugas akhir mulai terasa buntu, dan data penelitian tak kunjung lengkap. Tapi aku tidak menyerah. Aku kembali ke buku, kembali ke perpustakaan, dan kembali pada doa yang tak pernah putus di malam-malam sunyi.

     Doa menjadi teman paling setia. Di tengah kota yang tak pernah tidur, aku mengangkat tangan, meminta agar langkah ini dimudahkan, agar semua jerih payah tak sia-sia. Istriku pun selalu mendoakan dalam sunyi, meski ia juga lelah mengasuh anak dan menjaga rumah ketika aku pulang larut.

     Meski langkah menuju gelar sarjana tinggal beberapa bab skripsi lagi, bukan berarti perjuangan ini berjalan tanpa hambatan. Justru di semester-semester akhir, tantangan terberat datang dari hal yang sejak awal menjadi kekhawatiranku: biaya kuliah.

     Setiap semester, jumlah tagihan selalu menjadi beban tersendiri. Apalagi menjelang sidang skripsi dan wisuda semakin dekat, ada tambahan biaya pendaftaran, yudisium, toga, fotokopi berkas, dan lain-lain. Semua itu jumlahnya tidak sedikit bagi orang sepertiku yang gaji pas-pasan dan harus menghidupi keluarga kecil.

     Aku masih mengajar di lembaga kursus, tapi jam mengajarku tidak sebanyak sebelumnya karena harus menyisakan waktu untuk skripsi dan mengurus anak. Istriku juga hanya bekerja paruh waktu. Maka tak jarang kami mengencangkan ikat pinggang, menunda beli kebutuhan rumah tangga, bahkan mengandalkan makanan sederhana seperti telur dadar dan nasi goreng garam di akhir bulan.

     Di saat-saat genting, beberapa saudara kandung di kampung menawarkan bantuan. Mereka tahu aku sedang berjuang di Jakarta, dan mereka ingin ikut meringankan. Aku sangat menghargai niat baik itu, dan aku tahu itu datang dari cinta dan kepedulian. Tapi setiap kali tawaran datang, aku menolak secara halus.

     “Terima kasih banyak, tapi insya Allah aku bisa,” kataku kepada salah satu kakakku lewat telepon.

     “Jangan sungkan, No. Keluarga itu saling bantu,” jawabnya penuh sayang.

     Aku tahu. Aku sangat tahu. Tapi ada sesuatu yang terus kujaga dalam diriku: harga diri sebagai laki-laki, sebagai suami, sebagai ayah, dan sebagai mahasiswa yang ingin menyelesaikan kuliahnya dengan mandiri.

     Aku tidak ingin perjuanganku ini menjadi beban bagi siapa pun. Aku tidak ingin ketika aku berdiri di podium wisuda kelak, ada rasa berat hati karena pernah terlalu mengandalkan manusia. Aku ingin ketika gelar itu aku raih, aku tahu bahwa itu datang dari keringat sendiri, dari doa yang tak pernah putus, dan dari keyakinan kepada Allah SWT.

     Dalam setiap kesulitan, aku memilih untuk meminta hanya kepada-Nya. Di malam-malam sunyi, saat istriku dan anakku sudah tidur, aku bersimpuh di atas sajadah, memanjatkan doa:

“Ya Allah, Engkaulah yang memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki. Lapangkan jalan ini. Mudahkan urusan ini. Aku hanya berharap kepada-Mu.”

     Dan entah bagaimana, Allah selalu hadir dengan cara-Nya. Kadang tiba-tiba ada tambahan jam mengajar dari lembaga, kadang ada siswa privat yang mendaftar, atau tawaran untuk menerjemahkan teks Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris atau sebaliknya. Semua itu aku kerjakan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya untuk membayar tagihan, tapi sebagai bentuk tanggung jawab kepada-Nya yang sudah memberiku jalan.

     Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, aku belajar arti tawakal yang sesungguhnya. Bukan hanya pasrah, tapi berusaha sekuat tenaga sambil menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Aku tidak kaya harta, tapi aku kaya keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha.

     Kini ketika skripsi hampir rampung dan sidang sudah di depan mata, aku tahu bahwa setiap lembar yang kutulis bukan hanya hasil riset atau teori. Tapi hasil dari doa yang setiap malam kulantunkan, air mata yang tertahan saat anakku sakit tapi aku harus ke kampus, dan keteguhan untuk tetap berdiri tanpa membebani orang lain.

      Aku sadar, bukan gelar yang paling utama, tapi proses menuju gelar itulah yang membentukku. Dan dalam proses itu, aku belajar untuk benar-benar percaya: bahwa selama ada usaha dan doa, maka harapan akan selalu ada.

     Tak terasa, hari demi hari berlalu. Draf skripsiku mulai lengkap. Bab demi bab tersusun rapi. Beberapa dosen pembimbing mulai memberikan pujian atas keseriusanku, meskipun sesekali tetap memberi kritik tajam untuk perbaikanku. Aku menerimanya dengan hati lapang, karena aku tahu, proses ini bagian dari pertumbuhan.

     Dan akhirnya, tibalah momen sidang skripsi, hari yang selama ini hanya aku bayangkan dalam doa-doa panjang. Aku datang dengan baju rapi, membawa berkas lengkap, dan senyum penuh harap. Sidang berjalan menegangkan, tapi aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen dengan percaya diri, berkat semua jam belajar yang kuhabiskan di perpustakaan dan materi yang kudalami saat mengajar.

     Sehari kemudian, saat pengumuman hasil akhir keluar, aku bersama teman-teman yang sidang skripsi di hari yang sama berdiri mematung di depan dewan penguji dan pembimbing untuk siap menerima pengumuman hasil ujian skripsi pada hari sebelumnya. Saat terasa deg-degan untuk mendengarkan pengumuman siapa yang lulus dan tidak lulus tiba-tiba namaku terdengar jelas. Gelar yang selama ini aku kejar dengan penuh kerja keras tiba-tiba tertulis di selembar hasil ujian sidang skripsi yang bertuliskan dengan jelas: “Bejo Sutrisno, S.Pd.”

     Air mataku mengalir pelan. Aku terdiam sejenak. Semua rasa lelah, kantuk, lapar, dan perih di sepanjang perjalanan itu terasa sirna saat melihat tiga huruf kecil itu: S.Pd., Sarjana Pendidikan.

     Aku segera menelepon istriku. Suaraku tercekat, “Mah… Alhamdulillah. Aku lulus. Sekarang aku resmi sarjana…”

Di seberang, aku mendengar tangis bahagia. “Masya Allah, Mas… akhirnya ya…”

     Di malam harinya, aku bersujud di kamar sempit kami, sambil memeluk anakku yang masih kecil. Dalam hati aku berkata:

     “Nak, ayah sudah selangkah lebih dekat dengan masa depan yang lebih baik. Dan semua ini karena kamu, ibumu, dan keluarga kita. Perjalanan belum selesai. Tapi mimpi itu sedang kita rajut, bersama-sama.”