Perjalanan kuliah S2 tak pernah mudah. Bagi sebagian orang, mungkin bisa fokus hanya pada studi. Tapi bagiku, kuliah adalah satu dari sekian tanggung jawab besar yang harus dijalani bersamaan. Ada pekerjaan, keluarga, anak yang butuh perhatian, dan rumah tangga yang harus terus berjalan. Tapi justru karena semua itu, aku tidak boleh gagal.
Hari-hariku dipenuhi agenda padat. Pagi hari kuliah S2 dan mengajar di SMP Negeri, siang istirahat sejenak sambil menyiapkan materi, lalu sore mengajar di lembaga kursus dan malam sudah mulai mengajar di kampus STBA, dan sesampainya di rumah setelah makan malam dan ngobrol dengan istri baru bisa mulai mengerjakan tugas kuliah. Kadang rasa lelah membuat tubuh ini ingin menyerah, tapi aku selalu ingat: aku tidak sedang berjalan sendiri. Ada istri dan anakku yang ikut berjuang. Ada doa dari ibu dan bapak di kampung yang selalu menyebut namaku dalam sujudnya.
Semester demi semester kulewati dengan tekad bulat. Di saat banyak teman-teman kuliah bisa santai atau punya waktu luang, aku harus pintar-pintar mengatur waktu agar semua kewajiban bisa ditunaikan.
Memasuki semester akhir, tantangan lebih besar datang: penyusunan tesis. Aku harus memilih topik yang tidak hanya menarik secara akademik, tapi juga sesuai dengan kemampuan dan waktu yang kupunya. Aku memilih topik yang berkaitan dengan permasalahan yang sering dihadapi saat mengajar di SMP Negeri dengan harapan bisa memberi kontribusi kepada sekolah tersebut terkait permasalahan yang sering dihadapi terutama oleh siswa dan guru Bahasa Inggris.
Untuk menulis tesis, aku sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. Di saat teman-teman mengobrol santai di kantin atau nongkrong di kafe, aku sibuk mencari jurnal, mencatat referensi, dan menyusun outline tesis. Laptop tuaku yang layarnya kadang berkedip-kedip menjadi saksi dari lembur malam dan kopi murahan yang menemaniku.
Ada masa-masa di mana semangatku goyah. Dosen pembimbing kadang sulit ditemui. Revisi yang diberikan membuatku harus membongkar ulang berlembar-lembar tulisan. Belum lagi tekanan dari pekerjaan yang kadang menyita energi. Namun setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku hanya perlu memandangi anak kecilku yang tertidur di lantai rumah sederhana kami.
“Aku tidak boleh berhenti. Aku harus tuntaskan ini untuk mereka.”
Suatu malam, setelah salat tahajud yang disambung dengan mengetik tesis, aku termenung lama. Layar laptop menampilkan halaman terakhir bab lima, kesimpulan. Aku baca berulang kali. Kalimat demi kalimat. Lalu aku sadar: tesis ini akhirnya selesai.
Hari sidang tesis pun tiba. Aku mengenakan kemeja putih yang digosok istri sejak semalam. Berangkat dari rumah pagi-pagi dengan jantung berdebar. Di hadapan para dosen penguji, aku mempresentasikan hasil penelitianku dengan segenap rasa syukur dan keyakinan.
Setelah presentasi dan tanya-jawab yang cukup mendebarkan, salah satu dosen penguji tersenyum dan berkata, “Tesis Anda sangat aplikatif dan menarik. Kami mengapresiasi perjuangan Anda. Selamat.”
Tanganku gemetar. Bibirku bergetar menahan tangis. Dalam hati aku berseru, “Ya Allah, akhirnya…”
Hari itu aku pulang membawa sebuah amplop putih berisi selembar pengumuman tanda lulus ujian S2, sama seperti waktu lulus S1 dulu. Tapi kali ini, aku pulang ke rumah sendiri, disambut istri dan anakku, yang tersenyum bangga.
“Selamat ya, Mas. Sekarang Impian Mas jadi dosen makin dekat,” kata istriku sambil memelukku.
Aku mengangguk. “Ini semua karena kamu, karena anak kita, dan karena Allah yang terus membuka jalan di saat aku merasa tak mampu.”
Dan benar. Tak lama setelah itu, statusku sebagai dosen tidak tetap di STBA mulai naik ke jenjang yang lebih formal. Pihak kampus mulai mempertimbangkan untuk memanggilku lebih banyak mengisi kelas-kelas, bahkan mengikutsertakan dalam pelatihan dosen.
Aku tahu perjalanan belum selesai. Tapi satu hal pasti: impian menjadi dosen bukan lagi sekadar angan-angan. Kini, itu sudah di depan mata.
Hari Wisuda yang Tak Terlupakan
Hari itu akhirnya datang juga. Hari wisuda S2, hari di mana semua perjuangan, begadang, revisi, kerja keras, dan doa-doa yang tak henti dilangitkan akan ditutup dengan senyum syukur di atas panggung. Aku, Trisno, anak kampung dari keluarga pas-pasan, hari ini akan resmi menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd).
Pagi itu, langit Bekasi tampak mendung tipis. Namun di hatiku, matahari bersinar hangat. Istriku bangun lebih dulu dari biasanya, menyiapkan pakaian wisudaku dengan penuh perhatian. Jas hitam dan dasi sederhana yang sudah disetrika rapi tergantung di balik pintu. Putra pertamaku yang waktu itu baru berusia tujuh tahun sudah bangun lebih awal juga, tak sabar ikut ke Jakarta melihat ayahnya diwisuda.
Yang membuat hari itu semakin istimewa, istriku sedang mengandung anak kedua kami, usia kandungan memasuki bulan keempat. Meski perutnya mulai membuncit dan tubuhnya mudah lelah, ia tetap bersikeras untuk ikut ke lokasi wisuda. “Mas, aku harus ada di sana. Kita sudah berjuang bareng-bareng sampai titik ini,” katanya sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
Kami bertiga berangkat dari rumah menaiki motor Honda Supra X 125, satu-satunya kendaraan yang kami miliki. Motor yang sangat berjasa ini sudah menemani kami dari mengantar kerja, kuliah, bahkan mengangkut galon dan belanja bulanan. Hari ini, motor itu akan mengantar kami ke salah satu hari paling penting dalam hidup kami.
Dari Bekasi ke Senayan, Jakarta, perjalanan kami menempuh waktu hampir dua jam. Aku mengendarai motor dengan hati-hati, memastikan anakku duduk aman di depan, dan istriku nyaman di boncengan meski sedang hamil. Sepanjang jalan, kami tidak banyak bicara, tapi dalam hati aku melafalkan syukur berulang kali. Siapa sangka, anak dusun yang dulu sekolah pakai sandal jepit kini melaju ke wisuda S2.
Sesampainya di Gedung Lapangan Tenis Indoor, Senayan, suasana ramai dan meriah. Ratusan wisudawan dan keluarganya berkumpul, mengenakan toga dan jas, berswafoto di setiap sudut. Aku mengenakan toga dengan perlahan, ditemani anakku yang terus memegang erat tanganku.
Saat namaku dipanggil, aku melangkah ke panggung dengan dada yang penuh rasa haru. Dalam detik-detik itu, hidupku seperti berputar kembali: wajah bapak yang dulu legam kena panas terik matahari, ibu yang menjadi buruh cuci pakain tetangga, jalan tanah di dusun tempat aku lahir, dan semua peluh perjuangan yang kutemui sepanjang jalan.
Aku menunduk hormat saat menerima ijazah. Rasanya bukan hanya aku yang berdiri di panggung, tapi juga semua orang yang telah berjasa dan mendoakanku.
Setelah turun dari panggung, aku langsung mencari istriku dan anakku. Istriku menyambutku dengan mata berkaca-kaca, memelukku erat. “Mas, kamu sudah buktikan… Alhamdulillah,” katanya dengan suara bergetar.
Aku memegang perutnya yang mulai membesar, tempat anak kedua kami tumbuh sehat. “Ini untuk kalian. Untuk masa depan kita semua.”
Hari itu, kami tidak menyewa mobil, tidak makan di restoran mewah, dan tidak ada sesi foto di studio. Tapi hari itu sangat sempurna, karena kami bertiga pulang membawa rasa bangga, syukur, dan cinta yang dalam.
Di atas Honda Supra X 125, aku membawa keluargaku pulang ke Bekasi. Namun kali ini, aku pulang dengan gelar baru, semangat baru, dan impian yang semakin nyata.
Menjadi Dosen Tetap: Ketika Ilmu Menjadi Ladang Amal
Setelah hari wisuda yang penuh haru itu, hidupku kembali bergulir seperti biasa. Aktivitas mengajar di SMP dan lembaga kursus tetap kulakukan, tapi kini dengan semangat yang lebih besar. Di tanganku sudah ada ijazah S2, dan di dalam hati, ada keyakinan baru bahwa mimpi menjadi dosen sungguhan bukan lagi sekadar angan.
Beberapa bulan setelah wisuda, sebuah kabar datang dari pihak Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) tempatku mengajar sebagai dosen di Bekasi. Pimpinan kampus yang juga pernah melihat konsistensiku selama menjadi pengajar, mengabari bahwa akan ada pembukaan untuk formasi dosen tetap, dan memintaku mempertimbangkan untuk mendaftar dan memindahkan homebase ke STBA yang di Jakarta, yang masih berada di bawah naungan yayasan yang sama.
“Trisno, ini kesempatan bagus,” ucap salah satu pengelola kampus saat kami berbincang di ruang dosen. “Dengan status Magister, kamu sekarang sudah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi dosen tetap. Apalagi kamu sudah lama mengabdi di lembaga ini.”
Mendengar tawaran itu, hatiku bergetar. Ini adalah langkah nyata menuju profesi yang selama ini hanya bisa kubayangkan di dalam doa dan malam-malam panjang bersama buku. Tapi tentu saja, keputusan ini tidak bisa kuambil sendiri. Aku berdiskusi panjang dengan istriku.
“Mas, kalau ini jalannya, ambil saja. Kita pasti bisa menyesuaikan. Yang penting ini untuk masa depan,” kata istriku penuh dukungan. Perutnya sudah semakin membesar saat itu, usia kandungan menginjak tujuh bulan. Dukungan dari orang terdekat memang menjadi energi terbesar untuk melangkah lebih berani.
Akhirnya, dengan bismillah, aku mengajukan pindah homebase dan resmi menjadi dosen tetap di STBA Jakarta. Meski kampusnya sedikit lebih jauh dari tempat tinggal kami di Bekasi, aku tetap bersyukur karena ini adalah lompatan besar dalam karier akademikku.
Menjadi dosen tetap bukan hanya soal gaji tetap atau status, tapi juga tanggung jawab akademik dan moral yang lebih besar. Aku mulai dipercaya menjadi dosen pengampu mata kuliah inti seperti Speaking, Grammar, dan Teaching Methodology. Bahkan, beberapa semester kemudian aku ditugaskan menjadi pembimbing skripsi dan pembimbing akademik untuk mahasiswa baru.
Di ruang dosen kampus yang sederhana tapi nyaman, aku sering duduk merenung di sela-sela waktu mengajar. Di mejaku, ada papan kecil bertuliskan namaku lengkap dengan gelar: Bejo Sutrisno, S.Pd., M.Pd.
Aku sering memandangi papan nama itu. Bukan untuk sombong, tapi untuk mengingatkan diri sendiri: bahwa setiap huruf di gelar itu ditulis dengan peluh, doa, dan air mata. Bahwa ilmu yang kuperoleh bukan hanya untuk karier, tapi untuk memberdayakan orang lain, membangun generasi muda, dan menyambung rantai kebaikan.
Tidak jarang, saat mengajar, aku berbagi kisah kepada mahasiswa tentang bagaimana perjuangan meraih pendidikan tinggi dari kondisi keluarga yang serba terbatas. Aku ingin mereka tahu bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan pembentuk karakter pejuang.
Kini, setiap kali aku berdiri di depan kelas, aku tidak hanya melihat barisan mahasiswa. Aku melihat harapan. Aku melihat diri-diri kecil yang sedang mencari jalan untuk masa depan. Dan aku tahu, aku ada di sini untuk membantu mereka menemukan jalan itu.
Sang istri yang setia mendampingi perjuangan hidupku selama ini, melahirkan anak kedua kami, seorang bayi laki-laki yang sehat dan gagah. Tangis pertama bayi mungil itu seperti menghapus letih dan gelisah yang sempat memenuhi dadaku. Aku memandangi anak dan istriku dengan mata berkaca-kaca, merasa semakin kuat ikatanku pada peran sebagai suami, ayah, dan pelajar kehidupan. Dalam diam, Aku berjanji untuk menjadi ayah yang mampu memberikan teladan dan cinta, meski perjuangan hidup belum sepenuhnya usai.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin padat dan menantang. Aku harus membagi waktunya antara mengajar, menyelesaikan tugas-tugas akademik, serta membantu sang istri mengurus dua anak kami. Namun, aku tidak pernah merasa ini sebagai beban. Sebaliknya, kehadiran anak kedua justru menjadi sumber energi baru bagiku. Dalam peluh dan lelahnya, Aku melihat berkah yang tak ternilai, keluarga yang saling menguatkan dan impian yang terus menyala.