CHAPTER 11
MEMIMPIN DENGAN KETELADANAN: AMANAH BARU SEBAGAI KETUA SEKOLAH TINGGI

    Setelah melewati dua periode penuh tantangan dan pembelajaran sebagai Wakil Ketua di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Jakarta, aku kembali dipanggil untuk mengambil peran yang lebih besar, menjadi Ketua STBA Jakarta. Amanah itu datang bukan karena ambisi, tapi karena kepercayaan dan keteladanan yang telah aku bangun selama bertahun-tahun.

     Selama menjadi wakil, aku dikenal sebagai pribadi yang tidak hanya hadir secara administratif, tetapi juga hadir secara emosional dan spiritual bagi lingkungan akademik. Aku mendengarkan, turun langsung membantu menyelesaikan persoalan dosen dan mahasiswa, serta berani mengambil keputusan sulit tanpa mengorbankan nilai kebaikan.

     Pemilihan Ketua baru dilakukan secara penunjukkan langsung oleh yayasan dan staf sekolah tinggi Nama ‘Trisno’ muncul di antara beberapa kandidat lain. Meski awalnya aku merasa belum pantas, tapi suara hati dan dorongan dari banyak pihak membuatku menerima tanggung jawab itu dengan hati yang lapang.

     “Ini bukan jabatan untuk dibanggakan, tapi amanah yang akan saya pertanggungjawabkan, bukan hanya di dunia, tapi juga di hadapan Allah,” ujarku pelan saat menyampaikan sambutan pelantikanku.

Satu pagi di awal semester baru, aku duduk di meja  kerja yang belum lama ini resmi menjadi milikku sebagai Ketua Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Jakarta. Di atas meja kayu sederhana itu, terpajang tumpukan dokumen akademik, kalender agenda, dan secangkir teh hangat, kebiasaannya setiap pagi.

     Jabatannya sebagai Wakil Ketua telah usai setelah dua periode. Masa pengabdian yang penuh warna: mulai dari menyusun kurikulum baru, mengawal akreditasi, hingga menjadi jembatan antara dosen, mahasiswa, dan yayasan. Tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan itu akan membawanya ke posisi tertinggi di kampus tersebut.

     Ketika pihak yayasan mengusulkan namaku untuk menjadi Ketua, aku sempat terdiam lama. Aku tahu amanah ini bukan sekadar jabatan administratif. Ini adalah ladang pengabdian yang luas dan menantang. Setelah berkonsultasi dengan keluarga, menimbang dengan doa dan istikharah, akhirnya aku mengucapkan, “Bismillah, saya terima amanah ini. Semoga Allah tuntun langkah saya.”

     Sejak hari pertama menjabat, aku menyampaikan visi kepemimpinannya dengan sederhana tapi kuat:
      “Menjadikan kampus ini sebagai rumah belajar yang inklusif, spiritual, dan berdaya saing global, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.”

      Aku tahu bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi tentang membentuk manusia seutuhnya. Aku sendiri adalah buktinya, anak desa yang menapaki jalan sulit hingga bisa berdiri sebagai pemimpin akademik.

      Maka sejak awal, aku menolak kemewahan. Aku menolak ruangan kerja mewah dan lebih memilih menata ruang yang sederhana, terbuka, dan nyaman untuk siapa saja datang berdiskusi. Bahkan, Aku lebih tidak memilih meja besar bergaya eksekutif lebih memilih dengan meja kerja biasa, agar suasana tidak kaku.

      Aku juga membuat kebijakan “pintu terbuka” bagi mahasiswa dan dosen yang ingin berdialog langsung. “Pemimpin bukan orang yang ditakuti, tapi yang paling mudah diajak bicara,” ucapnya dalam salah satu forum rapat dosen.

      Salah satu kebijakan pertama yang aku gagas adalah program beasiswa internal untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu, termasuk mereka yang hampir putus kuliah karena faktor ekonomi.

      Aku juga menginstruksikan agar semua layanan akademik dibuat mudah diakses oleh mahasiswa, termasuk mereka yang berasal dari luar daerah atau memiliki kebutuhan khusus.

      “Ilmu itu cahaya. Tugas kita adalah membuka jendela sebanyak mungkin, supaya cahaya itu bisa masuk ke ruang-ruang yang gelap,” kataku saat peluncuran program tersebut.

      Tidak berhenti di situ, aku juga bekerja sama dengan lembaga non-profit dan tokoh pendidikan untuk membangun jejaring kerja sama program pelatihan soft skill, peningkatan kompetensi bahasa, hingga bimbingan spiritual dan motivasi.

      Sebagai ketua, Aku menghadapi banyak urusan administratif: anggaran, evaluasi kinerja dosen, koordinasi dengan yayasan, hingga memimpin rapat-rapat penting. Tapi di balik kesibukannya, aku tetap menyisihkan waktu untuk mengajar dua atau tiga kelas setiap semester.

     “Kalau saya berhenti mengajar, saya berhenti merasakan denyut utama dari dunia pendidikan,” ujarku suatu kali kepada staf kampus.

      Aku juga tetap hadir dalam kegiatan keagamaan kampus. Saat hari Jum’at, aku kerap datang lebih awal untuk ikut salat berjamaah di masjid kampus. Aku masih menyempatkan diri menyapa staf kebersihan, petugas keamanan, hingga satpam kampus.

Kesederhanaan tidak pernah hilang dalam diriku, meski kini banyak yang memanggilku dengan embel-embel “Pak Ketua”. Di hatiku, aku tetaplah “anak kampung” yang dulu hanya bisa melihat kampus dari kejauhan.

     Aku memahami pentingnya akreditasi, peringkat, dan mutu. Tapi aku juga yakin bahwa nilai sejati sebuah institusi pendidikan adalah integritas dan kebermanfaatannya bagi masyarakat.

      Di bawah kepemimpinanku, STBA Jakarta mulai membuka kelas pengabdian masyarakat, mengirim dosen dan mahasiswa ke desa-desa untuk mengajar bahasa Inggris, memberikan pelatihan teknologi dasar, dan literasi digital.

      Aku juga mendorong agar mahasiswa melakukan kegiatan sosial dan spiritual sebagai bagian dari pengembangan karakter. “Ilmu yang tidak dibarengi rasa peduli, hanya akan melahirkan manusia pintar tapi dingin hati,” kataku suatu hari dalam forum orientasi mahasiswa baru.

      Bagiku, memimpin bukan berarti harus menjadi yang paling pintar, tapi harus menjadi yang paling siap mendengarkan dan mengambil keputusan dengan hati bersih.

Meski sudah menjabat sebagai Ketua, aku tak pernah merasa perjalanannya telah selesai. Di rumah, aku masih membaca buku-buku pendidikan dan pengajaran malam hari sambil menemani anaknya belajar. Aku juga tetap menulis, menyiapkan bahan ajar, dan sesekali menjadi pembicara di luar kampus.

      Aku menyimpan satu catatan kecil di balik meja kerjanya. Sebuah kalimat yang ditulis dengan pena hitam bertahun-tahun lalu saat masih jadi mahasiswa S1:

      “Jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah lupa dari mana kamu berasal. Sebab yang membuatmu layak dihormati bukan jabatan, tapi hatimu yang terus tunduk dan bersyukur.”

      “Trisno kini berdiri sebagai pemimpin. Tapi lebih dari itu, ia berdiri sebagai teladan. Ia membuktikan bahwa mimpi anak desa bisa melampaui sekat-sekat kemustahilan, bila digenggam dengan keteguhan, keikhlasan, dan harapan yang tak pernah padam. Dan hari ini, ia tidak hanya mendidik dengan ilmu, tetapi juga dengan hidupnya sendiri.”

 

—o0o—

“Jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah lupa dari mana kamu berasal. Sebab yang membuatmu layak dihormati bukan jabatan, tapi hatimu yang terus tunduk dan bersyukur.”