CHAPTER 8
MENJEJAK DUNIA AKADEMIK: DARI MAHASISWA KE DOSEN

     Wisuda itu akhirnya tiba. Di aula yang megah, dengan toga dan jas hitam sederhana, aku berdiri di antara ratusan lulusan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Tangan ini menggenggam map biru tua berisi ijazah Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, tanda bahwa satu fase perjuangan panjang telah selesai.

     Namun aku tahu, itu bukan akhir, melainkan awal dari tangga baru. Tangga menuju mimpi yang lebih besar: menjadi seorang dosen.

     Setelah lulus, aku tidak membuang waktu. Dengan bermodalkan ijazah dan pengalaman mengajar di lembaga bahasa Inggris, aku melamar ke beberapa sekolah. Tak lama, aku diterima sebagai guru honorer di salah satu SMP Negeri di kota Bekasi. Honor mengajar  tidak seberapa, jauh dari UMR, tapi aku bahagia. Aku bisa berdiri di depan kelas sebagai seorang guru formal, pekerjaan mulia yang sejak dulu aku impikan.

     Setiap pagi aku berangkat ke sekolah. Menembus macetnya jalanan Bekasi dengan motor tua yang sering mogok, membawa buku-buku dan semangat baru. Aku mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, berusaha membawa metode pembelajaran interaktif yang selama ini kupelajari dari lembaga kursus ke ruang kelas yang sempit dan penuh anak-anak yang beragam.

     Meski hanya honorer, aku mengajar sepenuh hati. Karena aku percaya, murid-murid itu layak mendapatkan yang terbaik.

     Sore harinya, setelah salat Ashar, aku langsung melanjutkan pekerjaan di lembaga kursus bahasa Inggris. Kadang mengajar kelas dasar, kadang kelas percakapan untuk pekerja. Energi tubuh sering kali terkuras, tapi semangat untuk terus berkembang membuatku tak merasa lelah. Di antara jeda mengajar, aku mencatat ide-ide, membuka artikel jurnal internasional dari internet lembaga, dan mulai merancang satu mimpi besar:

“Aku harus lanjut kuliah S2. Karena jika ingin menjadi dosen, jalan satu-satunya adalah memperdalam ilmu hingga ke jenjang magister.”

     Sebelum benar-benar memutuskan melanjutkan kuliah S2, ada satu hal besar yang cukup lama bergumul dalam pikiranku. Kontrakan kecil yang kami tempati selama bertahun-tahun terasa semakin sempit. Anak kami yang dulu masih digendong kini mulai berlarian ke sana ke mari. Ruang tidur yang merangkap ruang belajar dan dapur sudah tidak cukup menampung kebutuhan keluarga kecil kami.

     Maka, dalam banyak doa dan diskusi dengan istri, kami memutuskan untuk mengambil langkah besar: mencicil rumah sederhana di pinggiran Bekasi. Letaknya agak jauh dari pusat kota, tapi cukup tenang dan lingkungannya bersih. Rumah tipe kecil, satu kamar tidur, satu ruang tamu, dapur mungil, dan halaman sempit di depan rumah. Tapi bagiku, itu adalah istana yang akan menjadi tempat berlabuh perjuangan kami.

     Mengambil rumah dengan skema KPR bersubsidi bukan keputusan mudah. Setiap bulan harus menyisihkan sebagian gaji yang sebenarnya sudah pas-pasan untuk membayar cicilan. Tapi aku percaya, ini bagian dari ikhtiar membangun pondasi kehidupan yang lebih mapan. Aku ingin anakku punya ruang tidur sendiri, istriku bisa memasak dengan nyaman, dan aku bisa belajar di malam hari tanpa harus menyulap ruang tamu menjadi meja belajar darurat.

     Kami mulai hidup di rumah itu sebelum tahun ajaran kuliah S2 dimulai. Belum banyak perabot, bahkan lemari pakaian saja masih pakai lemari plastik, dan lantai belum sepenuhnya dikeramik. Tapi ada kebahagiaan luar biasa ketika pertama kali kami tidur di rumah sendiri, meski masih banyak yang harus direnovasi supaya ada tambahan kamar tidur buat anak kelak.

     Istriku sering berkata, “Meski rumah kecil, tapi ini milik sendiri. Pelan-pelan, nanti bisa kita lengkapi.” Meskipun itu hanya ucapan sepele terdengarnya namun sangat bermakna sekali, membangkitkan semangat untuk tetap terus berjuang.

     Aku hanya tersenyum dan memandang langit-langit rumah kami. Di tempat itulah aku akan memulai perjuangan baru sebagai mahasiswa S2. Di tempat  itulah aku mulai menapaki anak tangga secara bertahap untuk bisa mencapai atap kesuksesan.

     Aku sadar, mengambil rumah di saat bersamaan dengan rencana melanjutkan kuliah adalah dua beban besar sekaligus. Tapi aku tak ingin mundur. Karena hidup tak akan pernah benar-benar siap, dan waktu terbaik untuk memulai sesuatu yang baik sering kali adalah sekarang. Dan segala sesuatu yang baik harus disegerakan.

     Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol harapan, simbol perjuangan, dan tempat kami menyulam mimpi, termasuk mimpi untuk menggapai dunia akademik dan menjadi seorang dosen.

     Awalnya terasa berat. Jika melanjutkan ke S2, biaya kuliah S2 tidak murah. Tidak ada beasiswa yang aku dapatkan waktu itu. Tapi aku tidak mau menunggu kesempatan emas yang belum tentu datang. Aku menciptakan jalanku sendiri, meski dengan dana seadanya.

     Istriku, seperti biasa, adalah tempat aku kembali. Di ruang kecil rumah kami, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin lanjut S2.

     “Mas yakin?” tanyanya sambil menggendong anak kami yang kini sudah bisa berjalan.

     “Aku harus yakin. Kalau aku ingin jadi dosen, ini langkah yang wajib kulalui. Kita jalani bareng-bareng, ya?”

     Ia hanya tersenyum dan mengangguk. “Selama tujuannya baik, aku insya Allah akan dukung. Kita bisa hemat lagi, pelan-pelan, asal jangan putus semangat.”

     Dengan izin Allah dan restu keluarga, aku mendaftarkan diri ke salah satu universitas negeri di Jakarta. Prosesnya tidak mudah. Seleksi ketat, berkas harus lengkap, dan tentu saja, biaya pendaftaran pun harus disiapkan.

     Alhamdulillah, aku diterima. Aku resmi menjadi mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa di sebuah kampus negeri ternama. Kampus yang sudah lama diimpikan dan kini mulai menjadi kenyataan.

     Kini ritme hidupku berubah lagi. Pagi kuliah di UNJ dan mengajar di SMP di hari berbeda yang tidak ada jadwal kuliah, sore mengajar di kursus hingga malam. Kadang waktu untuk anak dan istri sangat sempit, tapi kami saling memahami. Di akhir pekan, aku sempatkan waktu penuh untuk keluarga, meski tubuh ini rasanya ingin terus berbaring.

     Aku sadar, jalan menuju dunia akademik bukan jalan lurus tanpa rintangan. Tapi setiap tetes peluh, setiap kilometer perjalanan dari Bekasi ke kampus, setiap lembar modul yang kubaca larut malam, semua itu adalah batu pijakan menuju mimpi besar yang sedang kujalani.

     Aku tidak punya latar belakang keluarga akademisi, tidak ada warisan atau dukungan finansial yang mewah. Tapi aku punya tekad, punya keluarga kecil yang mendukung, dan yang terpenting: punya keyakinan bahwa ilmu adalah jalan mulia untuk membangun peradaban.

     Hari-hari terus berlalu. Tugas-tugas kuliah mulai menumpuk. Tapi setiap kali aku hampir menyerah, aku ingat bagaimana aku dulu jualan es potong keliling kampung, mengantar dompet di pabrik, hingga mencuci kendaraan anak majikan. Jika dulu aku bisa melewati itu semua, maka tantangan kali ini pun bisa kulalui.

     Dan kini, aku resmi menjejakkan kaki di dunia akademik. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai pejuang yang ingin ikut memberi kontribusi lewat pendidikan.

     Hari-hari kuliah di jenjang S2 terasa jauh lebih padat dan menantang. Tugas-tugas menumpuk, jurnal-jurnal ilmiah harus dibaca dan dikritisi, serta diskusi akademik di kelas terasa lebih mendalam dan intens. Tapi justru di tengah kepadatan itu, sebuah kejutan dari langit datang, pelan, tenang, tapi menyentuh.

     Salah satu pengajar di tempat kursus Bahasa Inggris tempat aku mengajar sebelumnya, yang kini juga menjadi Ketua di sebuah Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) di Bekasi, suatu hari menghubungiku.

     “Tris, kami sedang kekurangan tenaga pengajar untuk mengisi beberapa mata kuliah linguistik. Kamu mau mengisi kekosingan itu?” katanya santai.

     Jantungku berdegup cepat. Aku terdiam beberapa detik. Di tengah hiruk-pikuk mengajar di SMP, kuliah S2, dan mengatur kehidupan rumah tangga, tawaran ini seperti sinyal langsung dari Allah SWT. Sebuah jawaban dari doa-doa yang tak pernah putus.

     “Kalau Bapak percaya dengan kemampuan saya, saya sangat tertarik, Pak,” jawabku pelan tapi mantap.

     Prosesnya berlangsung cukup cepat. Aku diminta datang untuk wawancara, membawa CV, transkrip S1, dan menunjukkan bukti bahwa aku sedang menempuh kuliah S2. Aku datang dengan kemeja terbaik yang kupunya, meskipun sudah mulai pudar warnanya. Tapi semangatku utuh.

     Wawancaranya berjalan lancar. Mereka memang sedang kekurangan tenaga pengajar untuk mata kuliah Pronunciation dan beberapa mata kuliah linguistics di semester awal. Melihat latar belakangku di lembaga kursus dan status sebagai mahasiswa S2 aktif, mereka pun memberi kesempatan.

     Sepulang mengajar, aku langsung menatap langit senja dari jendela rumah sederhana kami. Air mataku tak tertahan. Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah titik awal impian besar yang perlahan mulai terwujud.

     Istriku, yang selalu setia mendampingiku dari awal, tersenyum hangat ketika aku menyampaikan kabar itu.

     “Masya Allah… Mas, doa-doa kita dijawab. Alhamdulillah,” katanya sambil menggenggam tanganku.

     Aku mengangguk. “Dulu, aku hanya bisa membayangkan jadi dosen dari balik etalase pabrik. Sekarang, Allah tunjukkan bahwa mimpi itu nyata, asal kita sabar, terus belajar, dan tidak berhenti berharap kepada-Nya.”

     Hari pertama mengajar di STBA itu rasanya seperti mimpi. Aku berdiri di depan kelas bukan lagi sebagai guru SMP atau tutor les privat, tapi sebagai dosen, meski masih berstatus dosen tidak tetap. Di kelas itu, aku berbicara bukan hanya tentang linguistics, tapi tentang semangat belajar, tentang perjuangan, dan tentang bahasa sebagai jembatan dunia.

     Mengajar di STBA itu tidak bergaji besar. Bahkan jika dibandingkan dengan kerja di tempat kursus, bisa jadi lebih kecil. Tapi bagiku, ini bukan soal angka. Ini tentang arah. Aku tahu, jalan ini sudah benar. Langkah kecilku kini sedang menuju satu tujuan besar: menjadi dosen penuh waktu dengan latar belakang akademik yang kuat.

     Dan yang paling membuatku bersyukur, semua ini tak akan terjadi tanpa dukungan istri, anak, dan terutama kekuatan dari Allah SWT yang selalu membuka jalan, meskipun pelan-pelan.

—o0o—

“Pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan atau penghasilan, tetapi tentang tanggung jawab moral, tentang memperbaiki keadaan, dan menjadi jalan manfaat bagi banyak orang”