Setelah bertahun-tahun mengabdi di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Jakarta, membawa perubahan demi perubahan, aku merasa waktunya telah tiba untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan karena lelah, bukan pula karena ingin meninggalkan jejak yang sudah dibangun dengan susah payah, melainkan karena aku melihat adanya peluang untuk berkontribusi lebih luas dalam dunia akademik nasional.
Suatu hari, aku membaca pengumuman pembukaan lowongan dosen tetap untuk Program Magister Linguistik Terapan di salah satu Universitas Islam terbesar di Jakarta. Universitas tersebut tidak asing bagiku, selain reputasinya yang kuat di tingkat nasional dan internasional, universitas itu juga dikenal sebagai pusat kajian bahasa dan pendidikan Islam yang dinamis. Hatiku pun tergerak.
Bukan keputusan mudah. aku berdiskusi panjang dengan istriku. Aku sadar, lingkungan baru berarti tantangan baru. Akan ada penyesuaian, target yang lebih besar, dan ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Tapi juga terbentang kesempatan untuk mewujudkan idealisme akademikku lebih luas.
“Jika aku tidak melangkah sekarang, mungkin aku tidak akan pernah tahu sejauh mana aku bisa bertumbuh,” ucapku pada suatu malam, di meja makan sederhana rumahku di Bekasi.
Proses Seleksi yang Ketat dan Panjang
Kebetulan masa jabatan sebagai ketua selama 1 periode yaitu empat tahun sudah mau selesai bulan depannya sehingga bisa mengajukan diri untuk tidak diperpanjang masa jabatanku jika diminta untuk menjadi ketua lagi di periode berikutnya. Aku pun mengirimkan berkas lamaran berikut persyaratannya yang tertera di daftar lowongan. Aku tahu saingannya tidak main-main. Universitas ini menjadi incaran banyak akademisi dari berbagai daerah di Indonesia. Kandidat yang mendaftar berasal dari berbagai latar belakang hebat: lulusan luar negeri, penulis jurnal internasional, hingga doktor dengan banyak penghargaan.
Namun aku tidak gentar. Aku percaya pada proses panjang yang telah aku lalui: dari masa kecil penuh keterbatasan, menjadi guru kursus, kemudian dosen dan pemimpin di sekolah tinggi, hingga akhirnya meraih gelar doktor dengan segala peluh dan doa. Semua itu bukan sekadar pengalaman, tapi modal integritas.
Setelah mengirimkan berkas dengan portofolio lengkap via online: publikasi ilmiah, sertifikat keahlian, pengalaman organisasi, dan tentu saja buku-buku karyanya sendiri. Aku juga mencantumkan keterampilannya dalam digital learning, termasuk kemampuannya mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi, dan pengalaman sebagai trainer untuk e-learning dan pembelajaran daring selama pandemi.
Beberapa minggu bahkan hingga satu bulan setelah mengirimkan lamaran via online belum juga ada balasan apakah berkas diterima atau tidak. Aku pun sangat pesimis dalam hatiku bergumam: “Pasti berkas lamaran saya tidak masuk kualifikasi untuk dosen yang diinginkan oleh prodi magister tersebut.” Bukan Trisno Namanya jika mudah menyerah. Aku selalu mengharap kepada Allah setiap ada keinginan dan kesulitan juga minta istri untuk bantu doa.
Ternyata benar Allah maha tahu apa yang selalu serius dimohonkan oleh hambaNya. Pas satu bulan akhirnya ada pesan masuk via WhatsApp tentang jadwal wawancara atas lamaran yang telah diajukan sebelumnya. Pada sesi wawancara, aku menjawab setiap pertanyaan dengan jujur dan reflektif, tanpa perlu membesar-besarkan pencapaiannya.
Beberapa minggu kemudian, sebuah surat resmi masuk ke email pribadiku. Dengan degup jantung yang tak menentu, aku membukanya perlahan.
“Dengan ini kami mengumumkan bahwa saudara Dr. Bejo Sutrisno, S.Pd., M.Pd., telah dinyatakan lulus seleksi akhir dan diterima sebagai dosen tetap Program Magister Linguistik Terapan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya”
Air matanya menetes. Diam-diam. Aku pandangi layar itu lama. Lalu aku tatap istri yang duduk di samping anak-anak yang sedang belajar.
Bagiku, ini bukan sekadar kemenangan pribadi. Ini adalah hasil dari perjalanan panjang doa, kerja keras, dan keikhlasan yang diwarisinya sejak kecil. Dari dusun terpencil, dari rumah reyot di perkampungan, hingga ke ruang dosen kampus besar di ibu kota.
Tantangan dan Visi Baru di Kampus Besar
Memasuki dunia universitas besar tentu memberi tantangan yang jauh berbeda. Tanggung jawab akademik lebih berat: penelitian, publikasi ilmiah internasional, pengabdian masyarakat, pembimbingan mahasiswa S2, dan tentu saja, menjaga integritas ilmiah dalam setiap langkah.
Namun aku tidak gentar. Aku mulai membangun kelas yang kolaboratif dan kreatif, mengintegrasikan teknologi digital dalam setiap perkuliahan. Aku juga mulai dipercaya untuk mengisi seminar dan pelatihan untuk dosen muda, serta menjadi reviewer jurnal nasional.
Visinya sederhana namun kuat: “Menjadikan kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi tempat tumbuhnya akhlak, kreativitas, dan kontribusi nyata.”
Kini aku melangkah di jalur akademik yang lebih luas. Tapi jejaknya tetap sama: penuh kesungguhan, keikhlasan, dan kepedulian. Di balik gelar dan jabatan, aku tetap anak dusun yang tak pernah melupakan asalku dan terus melangkah dengan hati yang bersyukur.
Langkahku di dunia pendidikan tak pernah sebatas ruang kelas. Bagiku, mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi tentang membentuk karakter, menanamkan semangat, dan mempersiapkan masa depan generasi muda. Setelah menjadi dosen tetap di salah satu universitas Islam terbesar di Jakarta, aku semakin mantap mengemban peran sebagai pendidik yang tidak hanya berkutat pada teori dan nilai akademik semata.
Aku menyadari bahwa setiap mahasiswa yang duduk di bangku kelasnya memiliki potensi yang luar biasa, meskipun datang dari latar belakang yang berbeda. Aku pun sering membuka ruang diskusi setelah kelas, menampung pertanyaan yang tak sempat terjawab, bahkan mengajak mahasiswa berdiskusi secara informal di kantin atau lewat grup belajar daring yang aku kelola sendiri.
“Tugas kita bukan hanya mencetak lulusan, tapi melahirkan manusia-manusia pembelajar,” ujarku dalam sebuah seminar dosen muda.
Setiap semester, aku terus mengembangkan pendekatan pembelajarannya. Aku memadukan kajian linguistik terapan dengan isu-isu sosial kontemporer, mendorong mahasiswa berpikir kritis, dan menyusun proyek-proyek penelitian kecil yang langsung menyentuh kehidupan nyata. Beberapa mahasiswa bahkan berhasil mempresentasikan hasil penelitian mereka untuk dipublikasikan di jurnal terideks nasional berkat bimbingan intensif dariku.
Aku juga aktif menulis modul dan buku referensi sendiri yang bisa diakses gratis oleh mahasiswa. Buku-buku itu bukan sekadar materi pelajaran, tapi sarat dengan kisah inspiratif dan nilai-nilai perjuangan, sebagaimana hidup yang pernah aku jalani.
“Kalau kamu merasa hidupmu susah, itu bukan alasan untuk berhenti belajar,” tulisku dalam salah satu pengantar buku.
Aku percaya bahwa tidak semua mahasiswa datang dari jalur yang mudah. Ada yang bekerja sambil kuliah, ada yang kesulitan biaya, ada pula yang tidak percaya diri karena latar belakang mereka. Aku melihat diriku dalam wajah-wajah itu. Aku tahu, mereka hanya butuh satu tangan yang mau menggandeng, satu teladan yang mau menunjukkan jalan.
Aku paham bahwa pengaruh terbesar dari seorang pendidik adalah keteladanan. Aku berusaha hadir tepat waktu di kelas, menjawab pertanyaan mahasiswa dengan sabar, dan menepati setiap janji akademik. Bahkan saat sibuk mengurus jurnal, seminar, atau kegiatan tridharma, aku tetap menyempatkan waktu untuk memberikan umpan balik pribadi kepada setiap mahasiswa bimbinganku.
Keikhlasanku dalam mengajar dan membimbing perlahan menjadi pembicaraan di kalangan mahasiswa. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya terinspirasi memilih jalur pendidikan karena melihat sosok aku. Beberapa bahkan menyatakan ingin melanjutkan ke jenjang S2 atau S3, meskipun awalnya tidak percaya diri.
Selain mengajar, aku juga aktif menulis artikel ilmiah, mengangkat isu-isu pendidikan dari sudut pandang seorang pendidik yang tumbuh dari desa. Aku ingin menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya berkembang di kota besar, tapi bisa lahir dari jiwa yang terus belajar di mana pun berada.
“Kini, Trisno bukan lagi sekadar guru, bukan pula hanya dosen. Ia telah menjadi sosok yang membangun generasi, bukan hanya lewat kata-kata, tapi dengan jejak hidup dan keteladanan yang nyata. Ia tidak pernah melupakan bahwa dirinya pun dahulu lahir dari ketidakpunyaan dan justru karena itulah ia tahu, ilmu yang diberi Allah bukan untuk disimpan, melainkan untuk memberdayakan.”