Setelah lulus SMP, langkahku menuju SMA adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Meski beban ekonomi keluarga masih belum hilang, aku merasa ada secercah harapan. Aku diterima di SMA negeri yang sebelumnya hanya aku impikan, dan meskipun banyak yang meragukan kemampuan anak seperti aku untuk bertahan di sekolah bergengsi itu, aku tahu bahwa aku tidak bisa menyerah begitu saja.
Pendaftaran SMA memerlukan biaya yang tidak sedikit. SPP dan uang pangkal harus dibayar di awal, dan sekali lagi, aku harus menghadapi kenyataan pahit: kami belum punya cukup uang. Namun, kali ini aku tidak menyerah. Ayah dan ibu bekerja lebih keras, juga kakak yang sudah bekerja sudah mulai bisa bantu membiayai sekolah adik-adiknya.
Akhirnya, berkat bantuan ibu dan bapak serta kakak yang tetap gigih bekerja meski kondisi mereka tidak jauh lebih baik, aku berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk biaya masuk dan perlengkapan sekolah. Namun, itu bukan perjalanan yang mudah. Aku ingat saat pertama kali berjalan menuju gerbang SMA, hatiku berdebar. Di depan sekolah, ada teman-teman yang datang dengan motor baru, tas mahal, dan pakaian rapi. Sementara aku? Aku masih dengan sepatu jari yang sudah usang, tas bekas SMP, dan celana yang sedikit ketat. Tapi aku meneguhkan hati. Aku ada di sini karena aku pantas ada di sini.
Di SMA, perjuangan semakin berat. Walaupun aku diterima dengan nilai yang cukup baik, aku merasa jauh tertinggal dalam hal materi. Banyak teman-temanku yang sudah punya banyak les privat atau bisa membeli buku pelajaran mahal. Sedangkan aku harus tetap menerima keadaan dan sesekali kerja serabutan jika ada kesempatan, kadang hanya mengandalkan pelajaran dari guru dan buku pinjaman di perpustakaan sekolah. Aku sering pulang dari sekolah dan langsung bantu tetangga bawa blarak daun kelapa untuk dijadikan sapu lidi.
Namun, semakin aku menghadapi kesulitan itu, semakin aku merasa yakin bahwa tidak ada yang bisa menghalangiku untuk terus maju. Aku mulai aktif di sekolah, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan juga belajar dengan lebih fokus. Di sela-sela itu, aku mencari kesempatan untuk memperoleh beasiswa. Kadang aku ikut lomba-lomba ilmiah atau menulis esai, meskipun aku selalu kalah jauh dengan perserta yang lain, tapi aku merasa ada kemajuan. Aku ingin membuktikan bahwa aku bukan hanya anak miskin dari desa, tetapi aku juga punya kemampuan.
Saat libur sekolah datang, aku tahu bahwa teman-teman sebaya di sekolah pasti akan menghabiskan waktu mereka dengan cara yang menyenangkan. Beberapa dari mereka pergi liburan ke kota besar, jalan-jalan ke pantai, atau menghabiskan waktu bersama keluarga di tempat-tempat wisata. Melihat mereka bercerita tentang perjalanan mereka, hati ini terkadang terasa sedih, tapi aku tidak pernah membiarkan perasaan itu menguasai diriku.
Sementara teman-temanku menikmati liburan, aku justru memilih untuk bekerja. Ada proyek pembangunan sekolah baru yang sedang dikerjakan di desa kami, sekolah SMA negeri yang akan dibangun tak jauh dari tempat tinggal kami. Teman-temanku tidak tahu, tapi bagi aku, ini adalah kesempatan emas. Aku mendekati tetanggaku yang kebetulan menjadi mandor di proyek tersebut. “Pak, saya bisa bantu apa saja di proyek itu?” tanyaku, dengan harapan bisa mendapat sedikit uang tambahan.
Dengan senyum simpul, Pak Sarto, sang mandor, berkata, “Kamu masih muda, Trisno. Tapi kalau ingin bekerja, nggak apa-apa. Ada pekerjaan yang bisa kamu lakukan, seperti mengangkut batu bata, sak semen, melayani adukan tukang, atau membersihkan area proyek.” Aku mengangguk, menyetujui pekerjaan yang mungkin akan membuat tubuhku lelah, tetapi setidaknya aku bisa mendapatkan sedikit uang.
Hari-hari liburan kuhabiskan dengan bekerja di proyek tersebut. Setiap pagi, aku bangun sebelum subuh dan seusai pulang sholat subuh dari masjid aku langsung berangkat ke lokasi pembangunan. Aku membawa bekal nasi dan sayur yang dimasak oleh ibu, dan saat jam istirahat, aku duduk bersama pekerja lain, makan sambil bercakap-cakap tentang kehidupan.
Aku teringat, di suatu sore yang sangat panas, aku sedang mengangkut batu bata di terik matahari. Teman-temanku lewat di jalan, mereka dengan sepeda motor dan tertawa riang, melihat aku yang sedang bekerja keras. Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil terus bekerja. Kecuali satu teman dekatku menghampiriku sambil menepuk pundakku dan berkata, “Aku salut sama kamu No, tetap tegar insyaa Allah kelak kamu akan jadi orang sukses.”
Dengan canggung aku menjawab, “Aamiin, terima kasih doanya.” Padahal, hati ini terasa berat, melihat mereka menikmati masa muda mereka, sementara aku harus bekerja keras demi masa depan.
Namun, di balik semua itu, aku merasa bahwa ini adalah kesempatan yang tidak bisa aku lewatkan. Setiap batu bata yang aku angkat, setiap satu sak semen yang aku panggul, setiap ember adukan yang saya jinjing, setiap tiang yang aku bantu pasang, seolah-olah aku sedang membangun pondasi untuk masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk diriku, tetapi untuk masa depan keluargaku. Aku tahu, meskipun aku tidak bisa ikut liburan seperti mereka, aku sedang membangun sesuatu yang lebih berharga: pengalaman, ketangguhan, dan semangat untuk tidak menyerah.
Liburan sekolah kali itu mungkin bukan liburan yang menyenangkan bagi banyak orang, tetapi bagiku, itu adalah liburan yang penuh makna. Aku belajar banyak tentang kerja keras, tentang menanggung beban, dan tentang menghargai setiap usaha kecil yang dilakukan untuk mencapai tujuan besar. Semua yang aku kerjakan di proyek itu, meski hanya pekerjaan kecil, memberi pelajaran yang berharga: hidup tidak akan memberi kita apa-apa dengan mudah, kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Ketika liburan berakhir, aku kembali ke sekolah dengan semangat yang lebih besar. Aku tahu, walaupun aku tidak memiliki banyak waktu luang, setiap momen itu bisa menjadi langkah menuju cita-citaku. Aku tidak lagi merasakan kekecewaan melihat teman-temanku menikmati liburan, karena aku tahu, jalan hidupku berbeda. Aku sudah memulai perjalanan panjang ini, dan tidak ada yang bisa menghentikanku.
Saat lulus dari SMA, aku merasa seperti berada di persimpangan jalan yang sangat sulit. Teman-temanku mulai berbicara tentang rencana mereka untuk melanjutkan kuliah di berbagai universitas. Ada yang ingin masuk ke perguruan tinggi negeri di kota besar, ada juga yang memilih kampus swasta yang menawarkan beasiswa. Mereka mulai berbicara tentang jurusan impian mereka, tentang kehidupan kampus yang akan mereka jalani. Aku mendengar semua itu dengan perasaan campur aduk—bangga karena mereka bisa melanjutkan kuliah, tapi juga cemas dan bimbang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Sementara itu, aku merasa lebih bingung daripada mereka. Bagiku, melanjutkan kuliah bukan hal yang sederhana. Biaya kuliah, biaya pembelian modul, biaya tugas-tugas, transportasi, dan yang lainnya, semua itu seolah menghantui pikiranku.
Aku merasa terjebak. Aku ingin sekali melanjutkan pendidikan, tetapi kenyataannya, aku lebih memikirkan bagaimana cara mendapatkan pekerjaan agar bisa menabung dan membiayai kuliah sendiri. Aku berpikir untuk mencari pekerjaan dulu, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, dan baru melanjutkan kuliah setelah itu.
Aku merasa kebingunganku semakin besar. Aku belum tahu bagaimana bisa melanjutkan pendidikan tanpa bantuan orang tua, karena biaya kuliah masih jadi masalah besar. Sementara itu, ayahku yang melihat aku bingung dan frustasi, mengajakku untuk ikut bekerja bersama saudaranya yang tinggal di Ambarawa, Semarang. Saudaranya memiliki sebuah pabrik kecil produksi tas dan dompet yang sudah berjalan cukup lama. “Anakku, kalau kamu ingin mencari pengalaman dan bisa punya penghasilan, coba deh kerja di pabrik pamanmu. Bisa belajar banyak, sekaligus membantu kita.” Kata ayah dengan penuh harap.
Aku tidak punya banyak pilihan lain. Hanya ada satu jalan yang bisa aku tempuh: mengikuti ajakan ayah untuk bekerja. Pagi-pagi, aku berkemas dan ikut ayah berangkat ke Ambarawa. Aku tahu, pabrik ini bukanlah tempat yang mewah, tetapi itu adalah kesempatan yang mungkin bisa memberikan sedikit modal untuk melanjutkan pendidikan di kemudian hari.
Setibanya di Ambarawa tempat paman, aku langsung di ajak ke pabrik pamanku, aku melihat tempat itu cukup sederhana, dengan tumpukan bahan tas dan dompet yang sedang diproses. Aku mulai bekerja dengan penuh semangat, meskipun aku tahu pekerjaan ini tidak akan mudah. Selain membantu di pabrik, aku juga diminta untuk melakukan pekerjaan lain yang tidak kalah banyak. Aku harus membantu membersihkan rumah, menyirami tanaman di halaman, mencuci kendaraan, bahkan mengantar jemput anak-anak paman berangkat dan pulang sekolah. Setiap hari, rutinitasku sangat padat.
Setelah selesai bekerja di pabrik, aku harus kembali ke rumah paman dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Waktu istirahatku sangat sedikit. Namun, aku merasa ini adalah harga yang harus aku bayar untuk mendapatkan pengalaman kerja yang berharga. Semua pekerjaan itu aku lakukan dengan hati yang ikhlas, meskipun terkadang tubuhku terasa lelah dan letih.
Terkadang, setelah semua pekerjaan selesai, aku harus membuka dan menutup toko tas dan dompet paman. Di toko tersebut, aku belajar banyak tentang cara melayani pelanggan, cara menghitung harga barang, dan bagaimana mengatur stok barang. Walaupun itu pekerjaan yang cukup berat dan tidak sesuai dengan impianku, aku menyadari bahwa semuanya memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan. Di tengah kesibukan itu, aku mulai berpikir, mungkin inilah cara untuk mengumpulkan uang untuk masa depan, sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah.
Namun, di antara rutinitas yang melelahkan itu, aku tak bisa menghindari perasaan bahwa hidupku sedang terjeda. Aku merasa seperti berada dalam sebuah putaran yang tidak pernah berhenti. Semua pekerjaanku di pabrik dan rumah paman, meskipun memberi aku penghasilan, seakan-akan membuatku semakin jauh dari impian untuk melanjutkan pendidikan. Aku merasa terperangkap dalam pekerjaan yang tidak memberi banyak peluang untuk meraih cita-cita yang lebih besar.
Aku mulai belajar untuk lebih sabar dan tidak mudah putus asa. Setiap malam, setelah pekerjaan selesai, aku membuka buku-buku pelajaran SMA yang aku bawa dari rumah. Meskipun lelah, aku tetap berusaha membaca, mempersiapkan diriku untuk ujian masuk perguruan tinggi yang akan datang jika sudah ada kesempatan. Aku tahu, meskipun saat itu aku jauh dari kampus impianku, setiap langkah kecil ini akan mendekatkanku pada tujuan.
Bekerja di pabrik tas dan dompet milik paman memberikan banyak pelajaran tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan nilai dari setiap usaha kecil yang dilakukan dengan penuh kesungguhan. Pekerjaan itu, meskipun tidak sesuai dengan harapanku, mengajarkanku bagaimana menghargai setiap kesempatan, bahkan yang tampaknya kecil sekalipun. Aku belajar untuk lebih bijaksana dalam mengelola waktu, serta memanfaatkan setiap peluang yang datang, sekecil apapun itu.
Setahun berlalu sejak aku mulai bekerja di pabrik tas dan dompet milik paman di Ambarawa. Setiap hari, aku menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, walau di dalam hati aku merasa ada yang belum selesai. Rutinitas yang melelahkan mulai terasa menjemukan, bukan karena aku tak sanggup bekerja, tetapi karena aku tahu impian yang selama ini aku simpan masih jauh dari jangkauan.
Di antara kebimbangan itu, aku teringat seorang teman kecilku bernama Jojo. Dulu kami sering bermain bersama di dusun, kami selalu satu sekolah dari SD, SMP hingga SMA, tapi setelah lulus SMA, Jojo merantau ke Bekasi, dan sekarang katanya bekerja di sebuah perusahaan tekstil di kawasan industri MM2100 Cibitung. Ia pernah bercerita lewat surat, bahwa di sana banyak peluang kerja, meskipun harus bersaing dengan ratusan orang dari berbagai daerah.
Dengan harapan yang masih menyala, aku memberanikan diri menulis surat untuk Jojo. Dalam surat itu aku menceritakan kondisiku saat ini, bahwa aku ingin mencari kehidupan yang lebih menantang, tempat yang bisa memberiku peluang untuk berkembang dan, jika Tuhan mengizinkan, melanjutkan pendidikan. Aku menulis:
“Jo, aku ingin maju. Aku ingin belajar lagi, meskipun lewat jalur kecil. Bantu aku cari kerja di tempatmu, atau di sekitar sana, asalkan bisa hidup mandiri dan ada celah untuk aku belajar dan menabung. Aku ingin mulai dari kursus, mungkin dari Bahasa Inggris dulu. Aku percaya, ini langkah awal menuju mimpi kita waktu kecil: bisa kuliah dan jadi orang berguna.”
Beberapa minggu kemudian, aku menerima balasan dari Jojo. Ia menyambut permintaanku dengan antusias. “Datang saja ke sini, No. Aku akan bantu. Mungkin kamu bisa kerja di bagian gudang dulu. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk makan dan bayar kos. Kalau mau kursus malam, ada juga tempatnya dekat-dekat sini.”
Mendapat balasan itu, jantungku berdegup kencang. Rasanya seperti mendapat angin segar setelah lama terjebak dalam ruang pengap. Aku sampaikan ke ayah dan ibu niatku untuk merantau ke Cibitung, Bekasi. Mereka tidak langsung menjawab, tapi aku tahu, meskipun berat, mereka akan merestui langkahku. Ayah hanya berpesan, “Jaga dirimu baik-baik, dan jangan tinggalkan sholat. Kalau kamu niat cari ilmu, insya Allah jalannya dibuka.”
Akhirnya, dengan uang tabungan seadanya dan sebuah tas ransel kecil berisi pakaian serta beberapa buku pelajaran SMA, aku meninggalkan Ambarawa setelah berpamitan ke keluarga paman. Perjalanan ke Bekasi bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan tekad, aku meninggalkan zona nyamanku demi mencari peluang untuk hidup lebih baik.
—o0o—
“Hidup bukan tentang apa yang kita punya, tapi tentang bagaimana kita bertahan dan melangkah meski tanpa apa-apa.”