Waktu terus bergulir, dan tanpa terasa aku telah menyelesaikan seluruh jenjang kursus Bahasa Inggris di tempat kurus tersebut di kota Bekasi, dari tingkat dasar hingga ke level tertinggi: Advanced Program. Dalam perjalanan itu, aku belajar bukan hanya soal bahasa, tetapi juga soal ketekunan, kerja sama, dan keberanian untuk berbicara di depan umum. Kemampuan komunikasiku meningkat pesat, bahkan beberapa instruktur mulai mempercayakan aku untuk memimpin diskusi atau membantu teman-teman yang kesulitan dalam pelajaran.
Satu hari, setelah sesi Sunday meeting, salah satu instruktur senior mendatangiku dan berkata, “Trisno, kamu punya potensi. Pernah terpikir untuk ikut program Teacher Training yang diadakan di kantor pusat?”
Aku kaget. “Saya? Jadi guru?”
Ia tersenyum. “Iya. Kamu punya kemampuan yang bagus, dan yang lebih penting: kamu punya semangat dan disiplin. Kami butuh orang seperti itu.”
Awalnya aku ragu. Menjadi guru terasa seperti beban besar. Dalam bayanganku, guru itu sosok yang sempurna, berwibawa, dan punya pengetahuan luas. Sementara aku… hanya anak kampung yang baru saja menyelesaikan kursus, dengan logat jawa yang masih medhok dan percaya diri yang kadang masih naik turun.
Namun, kata-kata instruktur tadi terus terngiang dalam benakku. Dan setelah beberapa hari berpikir, aku memutuskan untuk menerima tawaran itu. Aku mendaftar dalam program Teacher Training yang diselenggarakan di pusat lembaga kursus tersebut di daerah Jatinegara Timur. Program ini dirancang untuk para lulusan level advance yang ingin memperdalam kemampuan mengajar, termasuk pedagogi, manajemen kelas, hingga teknik evaluasi belajar.
Selama kurang lebih sepuluh bulan aku mengikuti pelatihan intensif, hampir setiap malam sepulang kerja. Materi yang diajarkan cukup berat, dan banyak hal baru yang sebelumnya tak pernah kusentuh: cara menyusun silabus, membuat lembar evaluasi, menangani murid dengan berbagai karakter, dan yang paling menantang, mengajar langsung di depan kelas percobaan.
Salah satu tantangan terbesar adalah saat harus microteaching di depan pengajar senior. Di sana, aku diuji bukan hanya soal kemampuan Bahasa Inggris, tapi juga bagaimana menjelaskan materi dengan cara yang mudah dimengerti, menyemangati siswa, dan menjaga suasana kelas tetap hidup. Tangan dan kakiku sempat gemetar, tapi aku berusaha menenangkan diri dan mengingat kembali tujuan awalku: aku ingin belajar, tumbuh, dan berbagi ilmu.
Setelah menyelesaikan program Teacher Training, aku dinyatakan lulus dengan nilai baik, dan beberapa minggu kemudian, aku mendapat kabar gembira: aku diterima sebagai asisten guru di lembaga kursus Bahasa Inggris di Bekasi.
Itu hari yang sangat bersejarah bagiku. Di hari pertama mengajar, aku berdiri di depan ruangan daily meeting tempat aku dulu belajar sebagai siswa. Di hadapan kira-kira dua puluh siswa peserta daily meeting, remaja usia SMA yang ingin belajar Bahasa Inggris percakapan. Melihat mereka menatapku dengan penuh harapan, aku merasa seperti berada di dunia baru. Dunia yang dulu hanya bisa kulihat dari jauh, sekarang mulai bisa kuraih dengan langkah kakiku sendiri.
Mengajar menjadi pengalaman yang sangat menyentuh. Dari hari ke hari, aku bukan hanya mengajarkan grammar atau pronunciation, tetapi juga menyemangati siswa yang minder, membimbing yang tertinggal, dan memberi motivasi bahwa siapa pun bisa belajar jika punya kemauan. Dalam diri para siswa itu, aku melihat diriku dulu anak kampung yang takut bicara, tapi terus berjuang.
Menjadi guru juga membuatku semakin sadar bahwa ilmu adalah cahaya, dan siapa yang mau belajar serta berbagi akan terus hidup dalam keberkahan. Gajiku sebagai asisten guru memang tidak besar, tapi cukup untuk biaya sehari-hari, menyambung biaya kontrakan, dan tetap menyisihkan sedikit untuk orang tuaku di kampung. Lebih dari itu, aku mulai mendapatkan kehormatan: dipanggil “Sir Trisno” oleh para siswa.
Itu bukan sekadar panggilan, tapi simbol bahwa perjuanganku tak sia-sia.
Bahkan kadang, di akhir kelas, ada siswa yang bertanya, “Sir, dulu belajarnya di mana? Kuliahnya di luar negeri ya?”
Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab, “Saya belajar dari jalanan. Dari kehidupan. Tapi saya yakin, jika kamu mau belajar sungguh-sungguh, tempatmu nanti bisa lebih tinggi dari saya.”
Menjadi guru di lembaga bahasa adalah tonggak penting yang mengubah arah hidupku. Dari buruh gudang menjadi pengajar, dari hanya bermimpi kini mulai menyentuh harapan. Dan yang paling penting, aku mulai merasakan keyakinan yang dulu hanya khayal, bahwa aku bisa kuliah, meskipun jalannya berbeda dari kebanyakan orang.
Aku tahu perjuanganku belum selesai. Ini baru permulaan. Tapi langkah kecil itu, dari kursus bahasa ke pelatihan guru, telah membawaku melangkah ke dunia baru. Dunia pendidikan, dunia pengabdian, dunia tempat aku merasa hidup sepenuhnya.
Setelah kabar bahwa aku diterima sebagai asisten guru, pikiranku bercabang. Di satu sisi, aku masih bekerja penuh waktu di pabrik. Gaji dari sana cukup stabil, walaupun kerjaannya berat. Tapi di sisi lain, hatiku makin tertarik pada dunia pengajaran. Setiap kali mengajar, meski masih dalam status pelatihan, ada semacam rasa kepuasan batin yang tak pernah kurasakan selama bekerja di gudang. Mengajar membuatku merasa hidup.
Aku mulai berpikir serius. Bisa jadi ini waktunya memilih. Apakah aku terus berada di zona aman sebagai buruh gudang, atau mulai menapaki jalan yang mungkin lebih berat tapi sesuai dengan mimpi dan panggilan jiwaku?
Setelah berdiskusi dengan teman dekat dan juga menyampaikan niat baik kepada orang tua lewat surat di kampung, akhirnya aku mengambil keputusan besar dalam hidupku: mengundurkan diri dari pekerjaan di pabrik, tempat aku bekerja hampir empat tahun lamanya.
Kepada atasanku di pabrik, aku sampaikan langsung dengan penuh hormat. “Pak, saya ingin izin pamit. Saya diterima jadi asisten pengajar di lembaga kursus. Gajinya memang belum seberapa, tapi saya merasa ini jalan yang harus saya ambil.”
Atasanku menatapku cukup lama, lalu berkata, “Kamu anak rajin, Trisno. Saya sedih kehilangan pekerja sebaik kamu. Tapi kalau itu pilihanmu, kejar dan jangan setengah-setengah.”
Hari terakhirku di pabrik penuh haru. Beberapa teman kerja memberikan semangat. “Semoga sukses, No. Nanti kalau udah jadi orang sukses, jangan lupa kita-kita yang kuli ini,” canda salah satu dari mereka. Aku hanya tersenyum dan memeluk mereka erat.
Malam itu aku pulang ke kontrakan dengan langkah ringan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa benar-benar berada di jalur yang tepat. Meninggalkan pekerjaan lama memang penuh risiko, tapi jika tidak kulakukan, mungkin aku tak akan pernah tahu bahwa dunia baruku sebagai pendidik sedang menungguku berkembang.
Aku pun resmi memulai fase baru: fokus penuh di dunia pendidikan. Di awal masa pengabdian, aku belum langsung mengajar penuh. Aku ditugaskan sebagai asisten guru, tugas yang menurutku sangat penting untuk belajar lebih dalam sebelum benar-benar berdiri sendiri di depan kelas.
Tugas utamaku sebagai asisten adalah membantu guru utama menyiapkan materi, mengatur alat bantu ajar, membagikan tugas siswa, mengisi kegiatan ekstra kurikuler, mencatat perkembangan masing-masing siswa, bahkan sesekali menangani kelompok kecil untuk diskusi.
Meskipun statusku hanya asisten, aku menjalani setiap tugas dengan sungguh-sungguh. Aku datang lebih awal dari jam masuk, sering tinggal lebih lama setelah kelas selesai untuk mendiskusikan materi dengan guru utama, bahkan ikut membantu bersih-bersih ruangan jika diperlukan. Bagiku, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan ladang pembelajaran.
Tak jarang aku mengamati bagaimana guru utama mengelola kelas: kapan harus tegas, kapan harus santai, bagaimana menanggapi pertanyaan murid dengan sabar, atau bagaimana menjaga semangat siswa tetap tinggi. Aku menyerap semua itu seperti spons menyerap air.
Ada satu momen yang tidak pernah aku lupakan. Saat guru utamaku berhalangan hadir mendadak karena keluarganya sakit, pihak manajemen memintaku untuk menggantikan satu sesi kelas malam hari itu. “Kamu sudah siap, kan?” tanya kepala program.
Aku mengangguk pelan, meski jantungku berdebar. Malam itu aku berdiri sendiri di depan kelas untuk pertama kalinya tanpa didampingi siapa pun. Siswa-siswa tampak kaget tapi antusias. “Hari ini kita belajar sama Sir Trisno, ya,” ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum.
Sesi kelas berjalan agak gugup di awal, tapi perlahan suasana cair. Aku mengajar dengan pendekatan yang kuingat dari guruku saat mengikuti program Teacher Training, menjelaskan dengan sederhana, mengajak siswa terlibat, dan memberikan semangat di setiap latihan.
Setahun berlalu sejak aku mulai menjadi asisten guru di lembaga kursus Bahasa Inggris. Dalam rentang waktu itu, banyak yang telah aku pelajari. Aku mulai terbiasa berdiri di depan kelas, menyusun materi, memandu diskusi, bahkan menangani siswa-siswa yang kesulitan belajar. Setiap minggu, rasa percaya diriku tumbuh perlahan. Aku tidak lagi sekadar asisten, tapi sudah mulai diberikan tanggung jawab mengajar kelas-kelas kecil.
Namun, sebuah kenyataan pahit mulai menampakkan diri. Untuk bisa naik status dari asisten guru ke guru junior dan kemudian ke guru senior, atau bahkan menjadi pengajar tetap di lembaga pendidikan yang lebih mapan, aku harus memiliki ijazah S1, khususnya di bidang Bahasa Inggris atau pendidikan. Meski punya pengalaman dan sertifikat teacher training, ternyata itu belum cukup untuk membuka lebih banyak pintu ke depan.
Beberapa rekan mengingatkanku, “Kalau kamu mau karier di dunia pendidikan naik, No, kamu harus kuliah. Harus punya gelar.”
Kalimat itu seperti tamparan lembut. Aku tahu mereka tidak salah. Tapi kuliah? Biayanya besar. Sementara gajiku sebagai asisten guru masih pas-pasan. Aku masih tinggal di kontrakan kecil, makan hemat, dan tetap mengirim uang, walau sedikit, ke orang tua di kampung. Belum lagi ongkos transportasi dan kebutuhan hidup harian.
Tapi hati kecilku tidak bisa menolak. Ada hasrat besar untuk terus belajar, dan mungkin inilah waktunya. Aku tidak bisa menunggu sampai semua kondisi sempurna. Karena mungkin, kondisi tak akan pernah benar-benar sempurna.
Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, bertanya pada teman-teman dan alumni lembaga kursus, aku akhirnya menemukan pilihan yang terasa masuk akal: Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), kampus swasta di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka membuka program S1 Pendidikan Bahasa Inggris dengan sistem kuliah reguler pagi dan sore, cocok untuk pekerja sepertiku.
Aku mengunjungi kampus itu di sela waktu mengajar. Saat melihat gerbang kampus dan aktivitas mahasiswa di sana, hatiku berdesir. “Suatu hari, aku ingin menjadi bagian dari tempat ini,” bisikku dalam hati.
Meski masih diliputi keraguan karena masalah biaya, aku memberanikan diri mendaftar. Aku kumpulkan semua dokumen yang diminta, termasuk surat rekomendasi dari tempatku mengajar. Saat menerima kabar bahwa aku diterima sebagai mahasiswa baru, perasaanku campur aduk: antara bahagia, gugup, dan cemas soal biaya kuliah yang tak sedikit.
Biaya pendaftaran, uang pangkal, dan biaya kuliah per semester membuatku harus menyusun strategi keuangan ekstra ketat. Aku menyisihkan sebagian besar gaji, mengurangi jatah makan dan hiburan, bahkan sempat meminjam uang dari Lembaga tempat saya mengajar dengan janji akan mengembalikannya secara bertahap dengan sistem potong gaji. Aku tahu ini berat, tapi aku tidak ingin menyerah di tengah jalan.
Di minggu pertama kuliah, aku duduk di bangku kelas bersama mahasiswa lain yang sebagian besar lebih muda dariku. Mereka langsung mengenali bahwa aku berbeda. Mungkin dari cara berpakaian yang sederhana, mungkin dari wajah yang lebih matang karena sudah kenyang pengalaman hidup. Tapi aku tak peduli. Aku datang untuk belajar, untuk menambah bekal agar bisa mengajar lebih baik dan membuka jalan baru dalam hidupku.
Kuliah di UHAMKA bukanlah perkara mudah. Berangkat habis subuh untuk mengejar bus jurusan Blok M dan sambung lagi dengan angkot yang menuju ke kampus Jalan Limau. Kadang tiba dalam keadaan lelah, tapi tetap memaksakan diri untuk fokus. Di sela-sela istirahat, aku membaca materi, mengerjakan tugas, dan berdiskusi dengan dosen yang membuka ruang konsultasi.
Setiap kali merasa lelah, aku ingat kembali tujuanku: untuk lebih berdaya, untuk lebih bermanfaat, dan untuk menolong keluargaku kelak.
Dan yang paling membesarkan hatiku, lembaga kursus tempatku mengajar memberikan dukungan moril dan fleksibilitas waktu. Kepala program memberiku jadwal yang memungkinkan aku tetap bisa kuliah dan bekerja. Bahkan, beberapa siswa justru semakin menghormatiku saat tahu bahwa gurunya juga sedang kuliah.
Dari kursus yang sederhana, kini langkahku merambah ke dunia akademik yang lebih luas. Trisno, anak kampung yang dulu hanya bisa memandangi kampus dari jauh, kini resmi menjadi mahasiswa S1 pendidikan Bahasa Inggris di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Dan dengan semangat itu, aku siap melanjutkan perjuangan.
Memasuki semester ketiga kuliah di UHAMKA, hidupku mulai terbiasa dalam ritme baru: kuliah di pagi lalu bergegas ke Lembaga di siang hari supaya tidak terlambat mengajar di jam pertama hingga selesai pukul 20.00 malam. Jadwal ketat dan tekanan akademik mulai menjadi bagian dari keseharian. Tapi di sela-sela kesibukan itu, ada satu hal lain yang diam-diam tumbuh semakin besar: perasaan cintaku pada seseorang.
Namanya Santi. Dia dulunya adalah salah satu murid di kelas kursus Bahasa Inggris yang aku ajar, siswa yang rajin, sopan, dan penuh semangat. Usai program kursusnya selesai, komunikasi kami tetap berlanjut, awalnya sekadar membahas pekerjaan dan tanya kabar. Tapi perlahan, hubungan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar guru dan mantan murid.
Setelah setahun saling mengenal, saling mendukung, dan merasa cocok dalam banyak hal, akhirnya aku sampai pada satu keputusan besar yang akan mengubah arah hidupku: aku ingin menikah dengannya.
Tentu bukan keputusan yang mudah. Aku masih kuliah. Penghasilan pun belum besar. Bahkan, beberapa orang dekat mempertanyakan, “Kamu yakin, No? Bukannya mendingan tunggu sampai lulus kuliah dulu?”
Tapi aku dan Santi sepakat dalam satu hal: kami tidak ingin berlama-lama dalam hubungan yang menggantung. Kami ingin hubungan ini menjadi sah, menjadi berkah, dan menjadi awal dari perjuangan bersama. Lagipula, hidup rumah tangga bukan hanya soal kesiapan materi, tapi juga kesiapan mental dan komitmen.
Aku pun menyampaikan niat ini ke orang tua di kampung, dan syukurnya mereka menyambut dengan bijak, meski sempat khawatir akan beban hidupku yang bertambah. Santi pun mengajak bicara keluarganya. Setelah melalui berbagai proses, termasuk musyawarah keluarga dan persiapan sederhana, kami pun menikah dalam sebuah acara kecil namun penuh kehangatan.
Hari itu, di sebuah masjid depan rumah Santi di kampung. Kebetualan aku dan Santi sama-sama dari Jawa Tengah hanya beda kabupaten. Aku mengucap ijab kabul dengan suara lantang. Tanganku bergetar tapi hatiku mantap. Setelah itu, kehidupan baru pun dimulai: rumah tangga di tengah kuliah dan pekerjaan.
Kami memutuskan untuk tinggal di kontrakan kecil di pinggiran Kota Bekasi, tidak jauh dari lembaga kursus tempat aku mengajar. Santi, yang saat itu juga masih bekerja di salah satu pabrik di Kawasan Industri MM 2100 Cibitung, sangat mendukung perjuanganku. Dia tahu bahwa penghasilan kami tidak besar, tapi kami berusaha mencukupi segalanya dengan perencanaan keuangan yang ketat dan gaya hidup yang hemat.
Setiap pagi, aku berangkat kuliah lebih awal, dan Santi menyiapkan bekal sederhana. Kadang dia juga membantu menyiapkan berkas tugasku di kampus, atau menemaniku belajar ketika deadline datang bertubi-tubi. Seperti biasa sepulang dari kampus aku terus bergegas ke lembaga untuk mengajar di sore hari hingga malam. Aku selalu mengajar hingga pukul 20.00 sehingga sampai rumah kontrakan juga malam dilanjut dengan makan malam sederhana yang sudah dipersiapkan oleh Istri tercinta, saling bercerita tentang hari yang telah dilalui, dan kadang menyusun mimpi bersama tentang masa depan yang lebih baik.
Kami tahu bahwa ini bukan hidup yang mudah, tapi kami percaya pada satu hal: jika dilandasi cinta, niat baik, dan kerja keras, semuanya akan bisa dijalani.
Terkadang, aku merasa heran sendiri. Dulu aku tidak berani membayangkan hidup seperti ini. Menikah sambil kuliah, sambil bekerja, dan tinggal di kota besar. Tapi kenyataannya, semua itu bukan hanya bisa dijalani, bahkan menjadi fase paling indah dan membentuk kedewasaanku.
Kini, aku tidak lagi berjuang sendirian. Ada seseorang di sampingku, yang setiap hari mendukung, mendoakan, dan bersedia menghadapi segala suka duka bersama. Dan itu adalah kekuatan yang luar biasa.
Setahun setelah pernikahan kami, Tuhan memberikan anugerah terindah dalam hidup kami. Santi mengandung anak pertama kami. Rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata. Di tengah semua kesibukan mengajar dan kuliah, tiba-tiba kami diberi tanggung jawab baru: menjadi orang tua.
Kami menjalani kehamilan istri itu dengan penuh syukur meski harus berhemat lebih keras. Kontrol ke bidan dijalani rutin, asupan makanan Santi kami usahakan sebaik mungkin, meskipun kemampuan finansial kami masih sangat terbatas. Aku pun semakin giat mengajar, bahkan mengambil kelas tambahan jika ada kesempatan, demi bisa menabung untuk persiapan kelahiran.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan bahwa Santi akan melahirkan di kampung halamannya. Di sana ada orang tuanya yang bisa membantu merawat dan menjaga pasca-persalinan. Selain itu, biaya persalinan di kampung jauh lebih ringan dibanding di kota. Aku pun setuju, meski rasanya berat harus berjauhan dalam momen penting seperti itu.
Hari kelahiran tiba saat aku sedang mengajar kelas malam. Ponselku bergetar di saku. Sebuah pesan masuk dari mertuaku: “Alhamdulillah, Santi sudah melahirkan. Anaknya laki-laki, sehat dan selamat.”
Air mataku mengalir tanpa bisa dicegah. Aku berusaha menahan haru di depan kelas, tapi akhirnya izin sebentar keluar ruangan untuk menenangkan diri.
“Anakku lahir,” bisikku sambil menatap langit malam dari sudut balkon lembaga.
Malam itu juga, aku mengambil cuti pendek dan berangkat ke kampung. Saat pertama kali menimang bayi laki-lakiku, kecil, hangat, dan wangi itu, hati ini penuh dengan rasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Inilah darah dagingku, amanah yang kini harus aku besarkan dengan cinta dan tanggung jawab.
Kami memberi nama anak kami dengan penuh doa dan harapan. Nama itu kami pilih agar ia kelak tumbuh menjadi anak yang kuat, berilmu, dan membawa kebaikan bagi banyak orang. Saat kupandangi wajah mungilnya, aku berjanji dalam hati: “Aku akan berjuang lebih keras lagi. Demi kamu, Nak. Demi masa depan kita bersama.”
Beberapa bulan pertama, Santi dan bayi kami tinggal bersama orang tuanya di kampung. Aku pulang jika sempat, dan kadang hanya lewat telepon di sela waktu istirahat. Tapi lama-lama, hati ini merasa tak tenang. “Sudah saatnya anak kita hidup bersama,” kataku pada Santi suatu malam lewat telepon. “Kalau kita memang mau membesarkannya sendiri, ya harus mulai dari sekarang. Biar susah bareng-bareng.”
Santi pun setuju. Dengan penuh pertimbangan, kami membawa bayi kami ke kontrakan kecil di Bekasi. Sejak saat itu, hidup kami berubah total. Aku tak hanya berperan sebagai suami dan mahasiswa, tapi kini juga sebagai ayah, yang harus bangun malam membantu mengganti popok, menyiapkan susu, dan menenangkan tangis bayi yang belum tahu dunia.
Istriku juga harus membagi waktunya antara menjadi ibu muda dan membantu pekerjaan rumah tangga. Tapi kami menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan tawa. Tak jarang, saat tugas kuliah menumpuk dan anak kami menangis di malam hari, kami justru tertawa karena bingung harus mendahulukan yang mana.
“Ini rumah tangga kita,” ucapku sambil menggendong si kecil di tengah malam. “Repot, tapi penuh cinta.”
Dari situ, aku sadar: perjuangan kami bukan lagi untuk diri sendiri, tapi untuk anak kami. Dia jadi alasan utama kenapa aku harus tetap kuliah meski lelah, tetap bekerja meski penghasilan belum seberapa, dan tetap bertahan meski hidup kadang terasa berat.
Anak ini bukan beban, dia justru sumber semangat. Setiap kali melihatnya tertidur pulas di pangkuan ibunya, aku tahu: “Semua perjuangan ini akan sepadan suatu hari nanti.”