Dalam setiap perjuanganku, ada keyakinan yang tak tergoyahkan—keyakinan bahwa jika Allah berkehendak, segalanya menjadi mungkin. Aku tidak memiliki banyak bekal ketika memulai langkahku: tidak ada harta warisan, tidak pula koneksi yang menjamin masa depan. Yang aku punya hanyalah semangat, niat baik, dan doa yang terus-menerus dipanjatkan. Sama seperti tongkat Nabi Musa a.s., yang di tangan manusia tampak biasa, tapi atas izin Allah bisa membelah lautan dan menyelamatkan umat dari ketertindasan.
Saat aku hendak melanjutkan S2, banyak yang meragukannya, bahkan aku sendiri sempat bimbang. Uang jauh dari cukup, rumah baru saja diangsur, anak sedang tumbuh dan butuh perhatian. Tapi aku percaya, jalan akan dibukakan bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Keyakinan itu menjadi “tongkat” yang aku genggam erat. Aku tetap mendaftar kuliah, tetap bekerja, dan tetap berdoa. Hari demi hari, pertolongan itu pun datang dari arah yang tak disangka: tambahan jam mengajar, proyek kecil-kecilan, bahkan kesempatan beasiswa untuk program doktor pun terbuka di saat yang paling tepat.
Tongkat Musa bukan hanya simbol mukjizat, tetapi juga simbol keberanian untuk melangkah, bahkan saat di depan hanya terlihat lautan. Aku sering kali berada di posisi itu—di depan tantangan yang besar dan nyaris tak masuk akal. Tapi seperti Musa, aku tidak berhenti. Aku “memukul” lautan itu dengan doa dan kerja keras. Dan Allah pun membelah jalan, menuntunku ke tempat yang selama ini hanya bisa aku impikan.
Ketika diterima sebagai dosen tetap, saat ditunjuk menjadi wakil ketua, bahkan ketika akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S3, semua itu bukan karena kekuatan diriku semata. Aku hanya menggenggam “tongkat” keyakinanku, dan menyerahkan hasilnya pada Allah. Dalam setiap tantangan besar, aku mengulang dalam hatinya:
“Yakin Allah pasti bantu. Yakin ada solusi. Yakin bisa menggapai impian.”
Hidupku adalah kisah bahwa mukjizat bukan hanya terjadi di zaman para nabi. Mukjizat juga bisa hadir dalam kehidupan siapa pun yang berani berjalan dengan iman dan keteguhan. Tongkatnya bukan kayu, melainkan keyakinan. Lautnya bukan air, tapi keraguan dan keterbatasan. Dan jalannya adalah perjuangan yang tak pernah aku tinggalkan.
Dalam setiap perjalanan hidup manusia, akan selalu ada fase-fase gelap, saat seolah jalan tertutup, saat harapan tampak redup, saat kekuatan mulai menipis. Namun pada titik-titik itulah Allah SWT mengajarkan manusia untuk bertawakal sepenuhnya, menyerahkan segalanya, dan meyakini bahwa pertolongan-Nya akan datang tepat waktu. Kisah Tongkat Nabi Musa a.s. bukan sekadar sejarah mukjizat, tapi simbol bahwa iman dan ikhtiar yang teguh bisa membelah kemustahilan.
Aku, dalam perjalanan hidupku, berulang kali berdiri di “tepi laut” tempat aku dihadapkan pada pilihan: menyerah atau melangkah dalam keyakinan. Saat aku tidak bisa mengambil rapor selama tiga tahun karena tunggakan, itu adalah laut pertama. Saat bekerja serabutan di pabrik tas, membersihkan rumah, dan antar jemput anak paman sekaligus sebagai majikan itu adalah laut kedua. Saat harus membagi gaji minim antara biaya hidup, kuliah, kursus, dan menyisihkan untuk orang tua, itu laut ketiga.
Namun, seperti Musa yang mengangkat tongkatnya dan laut pun terbelah, Aku selalu mengangkat “tongkat” milikku—tongkat doa, tongkat kerja keras, tongkat keyakinan kepada janji Allah. Dan benar, laut-laut itu pun terbelah satu per satu. Pintu-pintu terbuka dengan cara yang tak pernah aku bayangkan.
Tak berhenti di situ, dalam kisah hidupku, juga terlihat simbol-simbol dari kisah para nabi lainnya. Ketika aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dengan kondisi serba terbatas, itu mengingatkan kita pada Nabi Ibrahim a.s. yang meninggalkan Hajar dan Ismail kecil di padang gersang. Bukan karena tak sayang, tetapi karena yakin bahwa Allah akan mencukupi. Dan benar, dari hentakan kaki kecil Ismail, muncullah zamzam—air kehidupan yang abadi. Dari langkah kecilku, muncullah jejak-jejak perubahan: gelar S1, S2, hingga S3, dan amanah demi amanah yang menghampiri.
Lalu lihat pula saat istriku sedang hamil anak kedua di tengah masa perjuangan menyelesaikan magister. Aku tetap menjaga keluargaku dan menjaga cita-citaku. Ini seperti kisah Nabi Nuh a.s. yang membangun kapal di tengah keringnya tanah. Semua menganggapnya tak masuk akal, tapi ia terus bekerja hingga akhirnya banjir besar datang, dan kapal itu menyelamatkan umat. Aku membangun “kapal”-nya: keluarga, pendidikan, dan integritas. Dan kini kapal itu mengantarnya melewati derasnya tantangan.
Ketika akhirnya aku berdiri di panggung wisuda S3 dengan istri dan kedua anakku menyaksikan, itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah pengukuhan mukjizat kehidupan—hasil dari puluhan tahun menggenggam tongkat keyakinan, langkah yang terus diayunkan meski lutut lelah, dan harapan yang tetap dijaga meski berkali-kali digoda oleh kenyataan.
Di dunia yang serba cepat ini, kita butuh lebih banyak “tongkat Musa.” Tongkat-tongkat itu mungkin bukan dari kayu, tapi dari kesabaran, ketekunan, kejujuran, dan keteguhan hati. Tongkat yang ketika diayunkan akan membuat kehidupan bergetar dan takdir berubah. Tongkat yang akan menunjukkan bahwa bukan siapa kita hari ini yang menentukan masa depan, tetapi seberapa kuat kita percaya bahwa Allah tak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
“Jangan pernah berhenti di tepi laut. Angkat tongkatmu. Melangkahlah. Karena laut itu tidak akan terbelah jika kita hanya berdiri dan mengeluh.”
Itulah pelajaran dari kisah ini. Bahwa tidak ada impian yang terlalu tinggi jika Allah yang menuntun langkah kita. Bahwa setiap kemustahilan bisa dilawan dengan iman dan usaha yang sungguh-sungguh. Bahwa setiap dari kita—yang hidup dalam keterbatasan dan perjuangan—bisa menjadi Musa, jika kita mau menggenggam tongkat keyakinan kita sendiri.
—o0o—
“Jangan pernah berhenti di tepi laut. Angkat tongkatmu. Melangkahlah. Karena laut itu tidak akan terbelah jika kita hanya berdiri dan mengeluh.”