CHAPTER 5
JALAN TERJAL MENUJU IMPIAN

     Setibanya di Bekasi, Jojo menyambutku di terminal. Ia membawaku ke tempat kos sederhana, lalu keesokan harinya langsung mengenalkanku pada supervisornya di tempat ia bekerja. Setelah melalui proses interview dan lainnya, aku diterima bekerja di bagian gudang sebagai tenaga bongkar muat. Kerjaannya berat, kadang harus mengangkat bal-bal kain sampai larut malam. Tapi aku tidak pernah mengeluh. Ini langkah pertama.

     Setelah beberapa minggu bekerja dan mendapat gaji pertamaku, aku langsung mencari tempat kursus Bahasa Inggris yang murah. Aku temukan satu tempat kursus kecil di pinggir jalan, yang membolehkan pembayaran per bulan dengan biaya yang cukup terjangkau. Aku mendaftar dan mulai ikut kelas malam dua kali seminggu.

     Di sanalah semuanya mulai berubah. Aku belajar dengan semangat tinggi. Meskipun badanku sering pegal karena kerja fisik di siang hari, aku tak pernah absen datang kursus kecuali mengharuskan aku harus lembur. Di antara tumpukan kain dan kardus, aku menyalakan kembali impian yang dulu sempat nyaris padam.

     Aku mulai percaya bahwa meskipun aku datang dari dusun, dengan hidup serba pas-pasan, bukan berarti aku tidak bisa bermimpi besar. Di tempat baru itu, dengan kerja keras dan kemauan untuk terus belajar, aku yakin akan ada jalan terbuka menuju masa depan yang aku impikan.

     “Kisah ini menunjukkan titik balik penting dalam hidup Trisno: saat ia dengan berani meninggalkan pekerjaan “aman” di tempat paman, Ambarawa, untuk mengejar kehidupan yang lebih menantang di kota demi masa depan yang lebih baik. Langkah berani untuk merantau ke Bekasi dan memulai kursus bahasa Inggris menjadi awal dari jalan panjang menuju pendidikan tinggi.”

     Hari-hari di Cibitung tak pernah benar-benar mudah. Bekerja di bagian gudang perusahaan tekstil menguras tenagaku setiap hari. Pagi hingga sore, terkadang sampai malam, aku harus mengangkat bal kain, menyusun barang, mengepak kiriman, dan membantu apa saja yang diperintahkan. Badanku sering pegal, lutut rasanya nyeri, tapi aku terus bertahan.

     Setiap bulan, dari gaji yang tak seberapa itu, aku harus menyisihkan untuk banyak kebutuhan. Pertama tentu membayar kontrakan kecil yang aku tinggali bersama dua teman sekampung. Lalu, uang makan sehari-hari, biaya transport ke tempat jemputan bus karyawan, dan tentu saja, biaya kursus Bahasa Inggris yang aku ikuti dua kali seminggu di malam hari.

      Meskipun pengeluaranku pas-pasan, aku tetap berusaha menyisihkan sebagian kecil gajiku setiap bulan untuk orang tuaku di kampung meskipun orang tuaku tidak pernah mengharap apa dariku, cukup tahu kabar saya sehat dan baik-baik saja lewat surat itu sudah membuat bapak ibu di kampung senang. Bukan jumlah besar, kadang hanya cukup untuk membeli beras, minyak goreng, atau sedikit keperluan rumah tangga. Tapi aku selalu yakin, sekecil apa pun bantuan yang kukirim, itu akan sangat berarti bagi bapak dan ibu.

     Aku biasa mengirimkan uang itu lewat wesel kantor pos terdekat. Lalu aku kirim surat juga lewat kantor pos bebarengan dengan kirim wesel. Saat aku menulis surat untuk kedua orang tua, perasaanku selalu campur aduk. Kadang aku pura-pura tegar, padahal dalam hati aku ingin sekali pulang, membantu mereka lebih dari sekadar mengirim uang. Tapi ibu selalu berkata, “Trisno, yang penting kamu sehat, kerja yang rajin. Kami di sini baik-baik saja. Uang yang kamu kirim sangat membantu. Ibu doakan kamu sukses, ya, nak.”

     Kata-kata itu dalam balasan suratnya seperti bahan bakar yang menyulut semangatku setiap kali aku mulai merasa lelah. Aku tahu, apa yang kulakukan ini bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk orang tuaku, untuk keluarga, dan mungkin suatu saat nanti, untuk banyak orang yang hidupnya seperti aku dulu.

     Ada kepuasan batin tersendiri ketika bisa berbagi, meskipun hanya sedikit. Uang hasil kerja keras yang dikirim ke kampung bukan semata-mata sebagai kewajiban, tapi sebagai bentuk syukur. Aku percaya, rezeki yang dibagikan dengan niat baik akan membawa berkah yang berlipat. Dan nyatanya, hidupku memang terasa lebih ringan, bukan karena aku punya banyak, tapi karena aku belajar cukup dan tahu bagaimana memberi.

     Di sela-sela kesibukan kerja dan kursus, aku juga menyisihkan waktu untuk belajar sendiri. Aku mulai membaca kembali buku-buku pelajaran SMA, terutama pelajaran yang akan diujikan di ujian masuk perguruan tinggi. Kadang aku belajar di bawah lampu redup kontrakan, ditemani suara kipas angin tua yang berderit pelan. Aku tahu, jalan menuju kampus impianku masih panjang, tapi aku tidak akan berhenti melangkah.

     Suatu hari, seorang teman di tempat kursus bertanya, “No, kamu kerja terus, les terus, kirim uang ke kampung juga… kamu nggak capek?”

     Aku hanya tersenyum. “Capek, iya. Tapi aku senang. Aku punya tujuan.”

     “Bagian ini memperkuat karakter Trisno sebagai pribadi yang tidak hanya gigih dan penuh tekad, tetapi juga berbakti dan punya hati yang luas. Meskipun hidupnya di kota besar sangat terbatas, ia tetap mengutamakan orang tuanya dan menjadikan membantu mereka sebagai bagian dari perjuangannya menuju mimpi.”

     Setelah sembilan bulan penuh perjuangan di kursus Bahasa Inggris, akhirnya aku menyelesaikan kursus Bahasa Inggris pertamaku untuk tiga level dari level dasar 1, dasar 2 dan dasar 3. Tempatnya sederhana, materinya pun kebanyakan teori dan hafalan. Meski begitu, aku sangat bersyukur bisa belajar lagi dasar-dasar grammar, vocabulary, dan percakapan singkat di sana. Tapi dalam hati, aku tahu bahwa itu belum cukup.

     Dari informasi teman-teman kursus, aku mendengar ada satu tempat kursus yang lebih bagus di kota Bekasi, meskipun cukup jauh dari kontrakanku. Tempat itu terkenal karena metode pengajarannya yang berbeda, banyak praktik, bukan hanya teori.

     Tempat kursus itu memiliki fasilitas cukup lengkap: ruang kelas ber-AC, ruang diskusi, ruang tunggu untuk tempat ngobrol santai antar siswa. Di sana ada program ekstra yang disebut “Daily Meeting” dan “Sunday Meeting”, di mana semua siswa diwajibkan berbicara hanya dalam Bahasa Inggris saat diskusi, presentasi, atau bahkan bermain game edukatif. Metodenya membuat para siswa terbiasa dan terlatih untuk aktif berbicara dalam berbagai situasi nyata.

     Aku tertarik, tapi begitu mendengar biaya kursusnya, aku terdiam. Biayanya bisa dua kali lipat dari tempat kursus pertamaku, bahkan lebih. Untuk satu bulan, aku harus menyisihkan hampir setengah dari gajiku, itu belum termasuk ongkos transport dan modul belajar. Dalam kondisi biasa, mungkin aku akan mundur. Tapi kali ini, tekadku sudah bulat.

     Aku bicara dengan Jojo, temanku yang juga satu kontrakan. “Jo, aku mau pindah kursus ke tempat yang lebih bagus. Mahal, memang. Tapi aku merasa itu perlu.”

     Jojo mengangguk sambil menyeruput kopi yang baru dibuat. “Kalau memang itu tujuanmu, No, jalanin aja. Aku tahu kamu serius. Kalau ada apa-apa, kita bisa saling bantu.”

      Dari situ aku mulai menyusun ulang anggaran bulanan. Aku menekan pengeluaran lain seminimal mungkin serta memperbanyak lemburan di pabrik jika ada kesempatan. Tapi satu hal yang tak pernah aku tinggalkan: mengirim sebagian kecil gaji untuk orang tua di kampung. Aku tidak mau niat baik itu terputus hanya karena ingin mengejar keinginan pribadi.

     Akhirnya, aku mendaftar di lembaga kursus Bahasa Inggris tersebut. Hari pertamaku penuh rasa gugup. Para peserta kursus datang dari latar belakang berbeda: ada yang lulusan SMA, ada pula yang sudah bekerja di perusahaan multinasional. Tapi aku tidak minder. Aku tahu, aku punya semangat yang tak kalah kuat dari mereka.

     Setelah kelas usai, aku lanjut mengikuti kegiatan daily meeting. Kami duduk melingkar, dan satu per satu harus memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris. Suaraku sempat bergetar, lidahku kaku. Tapi setelah beberapa pertemuan, aku mulai terbiasa. Aku belajar banyak tentang public speaking, storytelling, bahkan bagaimana menyampaikan pendapat dalam debat ringan.

     Di tempat kursus baru ini, aku merasa seperti menemukan ‘dunia baru’. Setiap hari adalah tantangan, tapi juga pembelajaran. Pelan-pelan, kepercayaan diriku meningkat. Aku bisa berdiskusi dengan lancar, bahkan diminta menjadi moderator dalam beberapa pertemuan.

      Meskipun aku harus bersusah payah membagi waktu antara kerja di gudang dan kursus, aku merasa sangat beruntung. Semua lelahku terbayar dengan perkembangan yang kurasakan sendiri. Kini, Bahasa Inggris bukan lagi sekadar pelajaran, tapi sudah menjadi bagian dari keseharian.

     “Bagian ini menambah kedalaman perjuangan Trisno, menunjukkan bahwa ia bukan hanya sekadar “ingin bisa” tapi berani berkorban dan berinvestasi besar demi kemajuan diri. Ini adalah tahap penting yang menjembatani mimpinya menjadi seorang akademisi.”