Hidup aku adalah perjalanan panjang penuh ikhtiar dan doa, seperti lari-lari kecil Hajar dari bukit Safa ke bukit Marwah di tengah padang tandus Mekkah. Aku bukan hanya berjalan, tapi berlari, terus menerus, di tengah kelelahan, tanpa tahu pasti kapan pertolongan itu akan datang. Namun langkahku tak pernah terhenti. Aku percaya, seperti halnya Allah mengutus malaikat untuk memancarkan air Zamzam bagi Ismail, pertolongan akan tiba tepat ketika harap dan tawakal bertemu di puncak kesungguhan.
Masa kecilku dimulai di tanah yang sunyi dari gemerlap dunia, namun kaya akan tempaan kehidupan. Di dusun yang serba pas-pasan, aku belajar bahwa kehidupan adalah tentang bergerak. Sejak usia dini aku sudah berjualan es potong, menyaksikan teman-temanku bermain kelereng sementara aku berdiri menunggu pembeli. Waktu itu, aku tak pernah menyangka bahwa langkah-langkah kecil itu sebenarnya sedang melatih jiwaku untuk terus bergerak, seperti langkah Siti Hajar yang tanpa lelah mencari harapan di tengah gurun gersang.
Setiap babak hidup aku memiliki makna simbolik. Masa ketika aku mengangkut semen dan pasir di proyek pembangunan sekolah, itu adalah simbol bahwa setiap ilmu yang aku miliki kelak berdiri di atas fondasi keringat dan kerja keras. Ketika aku memutuskan merantau ke kota dan hidup di kontrakan kecil demi bisa belajar bahasa Inggris, itu adalah ‘Safa’, titik awal dari perjuangan intelektualnya. Dan saat aku menyisihkan sebagian gajiku untuk orang tua, itu adalah ‘Marwah’—wujud dari keikhlasan dan syukur.
Perjalanan hidupku pun tak selalu lurus. Banyak liku, tanjakan, bahkan kadang harus melangkah mundur untuk bisa maju. Tapi seperti kisah Siti Hajar, bukit demi bukit harus dilalui. Begitu pula ketika aku memutuskan menikah saat masih kuliah, kemudian memiliki anak pertama dan kedua di tengah perjuangan akademik. Itu semua bukan beban, tapi bagian dari ujian kesabaran dan keteguhan, yang justru memperkuat pijakan langkahku. Setiap malam begadang, setiap tangis bayi, setiap tagihan yang harus dibayar, semuanya menjadi batu kerikil yang membentuk jalan menuju keberkahan.
Ketika aku akhirnya mengenakan toga wisuda S2, mengajar sebagai dosen tetap, dan melanjutkan ke jenjang doktoral, bukan berarti perlombaan telah usai. Justru seperti Siti Hajar, aku tahu bahwa hidup tak pernah benar-benar berhenti di satu titik. Akan selalu ada Safa dan Marwah lain yang harus dituju. Aku tahu, di balik gelar dan jabatan, tugasku lebih besar: menjadi cahaya bagi mahasiswa-mahasiswaku, dan menjadi pilar harapan bagi keluargaku.
Kisah ini bukan sekadar tentang seorang anak desa yang berhasil meraih gelar akademik tertinggi. Tapi ini adalah tentang bagaimana ketekunan, harapan, dan tawakal membentuk seseorang yang tidak hanya ingin sukses untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk mengangkat martabat keluarganya, mengabdi pada ilmu, dan bermanfaat bagi orang lain. Aku menjadikan hidupku sebagai bukti bahwa dalam dunia yang penuh ketidakpastian, seseorang bisa melawan “kemustahilan” jika ia terus bergerak.
Setiap langkahku menyimpan pesan universal:
“Bahwa dalam hidup, kita semua punya Safa dan Marwah sendiri-sendiri. Kita berlari dari satu masalah ke harapan lain, dari satu ujian ke titik sabar berikutnya. Dan selama langkah itu masih kita tempuh dengan sungguh-sungguh, maka InsyaAllah, akan selalu ada ‘Zamzam’, pertolongan dari langit, yang datang pada waktu yang paling sempurna.”
Menjadi Cahaya: Dari Lelah Menjadi Berkah
Setelah perjalanan panjang yang penuh liku dan tantangan, aku kini berdiri bukan hanya sebagai seorang dosen bergelar doktor, tetapi sebagai simbol nyata dari harapan dan perjuangan yang tak kenal lelah. Aku menyadari bahwa setiap tetes keringat yang pernah jatuh, setiap malam yang aku lalui dengan kegelisahan, dan setiap pilihan sulit yang aku ambil, semua itu bukan beban, tapi jalan menuju berkah. Kini, lelah yang dulu dirasa telah berubah menjadi sumber kekuatan dan cahaya bagi orang lain.
Di ruang kelas tempat aku mengajar, Aku tidak hanya membagikan ilmu. Aku juga menyisipkan kisah hidupku dalam pembelajaran. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah batas. AKu tahu bahwa di antara para mahasiswaku, ada yang diam-diam tengah bertarung dengan hidup seperti yang pernah aku lakukan. Dan saat mereka mendengar bagaimana seorang anak dusun dengan sandal jepit bisa berdiri di depan mereka sebagai dosen, semangat itu kembali menyala.
Istriku, yang sejak awal memilih berjalan bersamaku dalam segala keterbatasan, kini menjadi saksi sekaligus sahabat sejati. Anak-anakku pun mulai memahami bahwa semua kenyamanan yang mereka rasakan hari ini tidak datang begitu saja, tapi dari perjuangan panjang yang tidak terlihat. Aku sering berkata kepada mereka, “Ayah bukan orang hebat, Ayah hanya orang biasa yang tidak berhenti melangkah meskipun jalannya berat.”
Aku tidak pernah lupa darimana aku berasal. Sesekali aku pulang ke dusun, ke rumah kecil di mana semuanya bermula. Aku duduk sambil menyeruput kopi pahit sepahit masa-masa sulit dan mengingat masa kecil. Di sana, aku merasakan kedamaian yang tidak pernah bisa digantikan oleh gemerlap kota. Aku sadar, cahaya yang kini ada dalam diriku berawal dari sinar sederhana di rumah itu: doa ibu, kerja keras ayah, dan kasih sayang keluarga.
“Menjadi cahaya bukan berarti menjadi yang paling terang,” ucapku dalam satu forum, “tetapi cukup menjadi penerang bagi sekitar kita, terutama bagi mereka yang tengah berjalan dalam gelap.” Kalimat itu menjadi semboyan hidupku. Aku tidak pernah memaksakan orang untuk menjadi seperti diriku, tapi aku selalu berusaha membuka jalan, memperlihatkan bahwa ada harapan di balik segala keterbatasan.
Lelah yang dulu terasa menyesakkan kini berubah menjadi rasa syukur. Bukan karena hidup menjadi mudah, tapi karena hatiku telah kuat. Aku paham, hidup bukan hanya soal mencari kenyamanan, tapi tentang menemukan makna. Dan makna itu aku temukan dalam setiap langkah, peluh, dan doa yang dulu terasa berat, kini menjadi cahaya.
Aku menatap langit malam dari beranda rumahku. Angin bertiup pelan, membawa ketenangan. Dalam hati aku berbisik, “Terima kasih, ya Allah. Bukan karena aku hebat, tapi karena Engkau tak pernah membiarkanku berjalan sendiri.” Dan di sanalah, cerita ini mungkin berakhir… namun cahayanya baru saja menyala bagi banyak jiwa yang tengah berjuang.
“Kisah Trisno masih jauh dari kata selesai. Tapi satu hal pasti: Ia tak pernah melupakan dari mana ia berasal. Dan ia akan terus mengajar, bukan hanya dengan buku, tapi dengan hati yang tulus, agar jejak perjuangannya menjadi jalan bagi orang lain.”
—o0o—
“Kita semua punya Safa dan Marwah sendiri-sendiri. Kita berlari dari satu masalah ke harapan lain, dari satu ujian ke titik sabar berikutnya. Dan selama langkah itu masih kita tempuh dengan sungguh-sungguh, maka InsyaAllah, akan selalu ada ‘Zamzam’, pertolongan dari langit, yang datang pada waktu yang paling sempurna.”