Aku lahir di sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang mulai lapuk di bagian sudut-sudutnya. Lantainya masih berupa tanah, beralas tikar pandan yang sudah usang, dan atapnya bocor di musim hujan. Itulah tempat pertama aku menghirup udara dunia—di sudut kecil dusun yang nyaris tak terpetakan di peta Indonesia.
Aku anak kelima dari tujuh bersaudara. Kami tinggal bersama kedua orang tua yang setiap harinya bekerja keras agar dapur tetap bisa mengepul. Bapak seorang buruh serabutan yang kira-kira sepuluh tahun kemudian setelah saya lahir yaitu sekitar tahun 1981an mulai mendapatkan keanggotaan veteran dari pemerintah saat itu karena pernah ikut berjuang saat masih tinggal di Ambarawa tempat kelahirannya semasa masih muda. Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa, tapi juga kadang merangkap jasa mengambil pekerjaan mencuci di rumah-rumah tetangga yang membutuhkan jasa ibuku.
Kehidupan kami benar-benar serba terbatas. Tak ada kamar sendiri, hanya beberapa kamar tidur untuk tidur ramai-ramai dan berdempetan di malam hari. Jika salah satu dari kami bangun untuk ke kamar mandi, pasti akan membangunkan yang lain karena harus melangkahi badan. Makanan pun seadanya. Nasi liwet dengan sayur ompong, daun singkong rebus dan tahu tempe adalah menu yang paling sering hadir di meja. Lauk seperti daging ayam atau ikan hanya muncul di hari-hari istimewa, misalnya saat tetangga ada hajatan atau jika bapak dapat undangan untuk selamatan dan mendapatkan nasi berkat yang biasanya di dalamnya ada daging ayam atau daging sapi meski hanya tidak seberapa karena harus dibagi rata.
Namun, meski hidup kami sempit secara materi, rumah itu tidak pernah kekurangan suara tawa. Meskipun sering berebut tempat tidur atau sepiring lauk, kami tumbuh dengan perasaan saling memiliki dan menguatkan satu sama lain. Aku ingat betul, meski ibuku hanya menyajikan nasi putih dengan garam dan sedikit minyak kelapa, ia tetap tersenyum sambil berkata, “Yang penting perut nggak kosong, Nak.”
Ada hari-hari ketika aku tidak bisa ikut sekolah karena celana pendekku yang buat sekolah rusak dan tidak ada uang untuk membeli yang baru. Aku hanya bisa melihat teman-temanku lewat depan rumah, berseragam rapi dan membawa tas. Aku duduk diam di sudut, menahan tangis. Tapi ibu selalu punya cara menenangkanku. Ia akan meraih tanganku, membelai rambutku, dan berkata, “Nanti ibu bantu jahitkan, asal kamu jangan menangis terus.”
Bapak juga bukan orang yang banyak bicara, tapi aku tahu cintanya dalam sekali. Ia mungkin tak bisa membelikan buku baru atau memberi uang saku lebih, tapi setiap sore ia pulang dengan mata lelah dan tubuh letih demi kami. Kadang ia mengajakku duduk di beranda bambu sambil bercerita tentang masa mudanya yang hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) setingkat dengan Sekolah Dasar (SD).
“Bapak nggak ingin kamu seperti bapak. Kalau kamu bisa sekolah tinggi, itu lebih dari cukup buat bapak,” katanya pelan.
Aku lahir di tengah keterbatasan, itu benar. Tapi aku juga lahir dalam keluarga yang penuh ketulusan dan pengorbanan. Setiap kerikil di jalan kami, setiap malam kelaparan, setiap baju tambalan yang kusemat di tubuh ini, semua mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang apa yang kita punya, tapi tentang bagaimana kita bertahan dan melangkah meski tanpa apa-apa.
Dan sejak kecil, aku tahu, satu-satunya jalan keluar dari kesempitan ini adalah pendidikan. Maka, sejak hari itu, aku bersumpah dalam hati: aku akan belajar segiat mungkin. Bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk ibu, bapak, dan keenam saudaraku. Aku ingin kelak, suatu hari nanti, saat ibu duduk di kursi kayu di depan rumah, ia bisa berkata pada tetangga dengan bangga, “Itu anakku. Dulu lahir di rumah reyot, sekarang jadi orang berilmu.”
Masa Kecil yang Bersahaja
Masa kecilku bukan masa yang diisi dengan mainan mahal atau jalan-jalan ke kota besar. Tidak ada mainan seperti mobil-mobilan, sepeda baru, atau apalagi pesta ulang tahun. Tapi di balik semua yang tidak kumiliki, ada banyak hal yang justru membuat masa kecilku terasa utuh dan bahagia.
Setiap pagi, aku bangun sebelum matahari terbit. Bukan untuk menonton televisi, karena kami tak punya televisi, melainkan untuk membantu ibu mengisi gentong air untuk memasak dari sumur tanah belakang rumah atau menyapu halaman. Pekerjaan kecil itu jadi rutinitas yang tak pernah kuprotes. Bahkan sering kulakukan sambil menyenandungkan lagu-lagu rakyat yang biasa diajarkan oleh ibu.
Setelah itu, aku dan kakak berjalan ke sekolah. Jaraknya sekitar lima ratus meter tidak jauh dari rumah, melewati kebun orang dengan kaki tanpa sepatu karena saat itu masih dibolehkan tidak bersepatu karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bisa beli sepatu sekolah. Pernah sesekali pakai sepatu bekas dikasih oleh tetangga kaya yang sudah tidak terpakai lagi tapi tidak lama sepatunya rusak dan penuh tambalan. Tas kami hanyalah potongan karung terigu yang disulam oleh ibu. Tapi langkah kami ringan. Kami tahu, ilmu di dalam kelas itu jauh lebih berharga dari apa pun yang kami bawa.
Di sekolah, aku bukan anak yang menonjol secara fisik. Aku kecil, kulitku gelap karena terbakar matahari, dan bajuku sering lusuh. Tapi aku dikenal sebagai anak yang rajin dan cepat menghafal. Aku suka duduk paling depan, memperhatikan setiap kata guru, dan mencatat dengan rapi meski hanya dengan pensil pendek yang sudah hampir habis.
Setiap pulang sekolah, aku tidak bisa langsung bermain. Aku harus membantu ibu menjemur pakaian, mengambil air dari sumur, atau mengasuh adik-adik yang masih kecil. Tapi di antara tugas-tugas itu, aku selalu menyelipkan waktu untuk membaca buku cerita. Buku cerita dari perpustakaan sekolah kubaca berulang-ulang. Bahkan jika sudah tak ada buku baru, aku membaca kembali yang lama, membayangkan aku adalah tokoh-tokoh hebat di dalam cerita.
Aku ingat, satu buku yang sangat kusukai adalah buku tentang seorang anak desa yang bisa jadi dokter. Setiap malam, sebelum tidur, aku memandang langit-langit rumah dan membayangkan aku kelak juga bisa mengubah nasib, seperti tokoh itu.
Bermain? Tentu kami juga bermain. Tapi bukan permainan modern. Kami main kelereng dari tanah, membuat gasing dari bambu, dan mengejar-ngejar layangan putus di tengah sawah. Kadang kami main ‘petak umpet’ di antara pohon pisang atau membuat perahu dari daun kelapa di sungai kecil. Kami tidak punya uang saku, tapi kami punya imajinasi yang tak terbatas.
Kadang-kadang, saat hari libur, bapak mengajak kami ke kebun untuk mencari kayu bakar. Di tengah kerja itu, bapak sering bercerita. Tentang masa mudanya yang keras, tentang betapa berat hidup orang desa jika tidak punya pendidikan. Cerita-cerita bapak itu membekas dalam kepalaku, menjadi peringatan sekaligus motivasi.
Meski hidup pas-pasan, keluarga kami erat. Kami makan bersama, duduk di kursi kayu yang sudah tidak tegak lagi, saling menyendok dari satu piring besar. Kami saling berbagi, meski sering kekurangan. Kalau salah satu dari kami sakit, yang lain akan membantu mengompres atau menghibur. Kalau ada yang berhasil rangking di kelas, kami semua ikut senang walau tak ada perayaan.
Dalam segala keterbatasan itu, aku belajar banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah: keikhlasan, kebersamaan, kerja keras, dan rasa syukur. Aku belajar bahwa hidup tak harus sempurna untuk menjadi bermakna.
Dan dari masa kecil yang bersahaja inilah aku belajar satu pelajaran paling penting: bahwa mimpi tidak lahir dari kemewahan, tapi dari keteguhan hati.
—o0o—
“Pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan atau penghasilan, tetapi tentang tanggung jawab moral, tentang memperbaiki keadaan, dan menjadi jalan manfaat bagi banyak orang.”