CHAPTER 10
MENEMBUS BATAS: MENJADI KANDIDAT DOKTOR

     Tiga tahun sudah aku mengabdikan diri sebagai dosen tetap di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Jakarta. Dalam kurun waktu itu, banyak hal telah kulalui. Aku tidak hanya mengajar, tapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan kampus: menyusun kurikulum, membimbing mahasiswa dalam skripsi, hingga aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

     Semua kulakukan bukan demi popularitas, bukan demi jabatan, tapi karena aku merasa ilmu yang telah kuterima adalah amanah. Dan amanah itu harus dijalankan dengan tanggung jawab, keikhlasan, dan kedisiplinan.

     Suatu hari, seusai rapat senat dosen, aku dipanggil oleh Ketua STBA.

     “Mas Trisno, kami ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting,” ucap beliau dengan nada tenang.

     Aku sedikit bingung. Tidak ada bayangan sama sekali bahwa hari itu akan menjadi titik awal perjalanan baru dalam karier akademikku.

     “Karena adanya kekosongan jabatan struktural dan melihat kinerja Mas Trisno selama ini, disiplin, bertanggung jawab, serta mampu bekerja sama dengan baik, kami ingin menawarkan posisi sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik.”

      Seketika, aku terpaku.

“Wakil Ketua?” ulangku pelan, masih mencoba mencerna maksudnya.

      “Iya, tentu ini bukan hal yang ringan. Tapi kami yakin Mas Trisno bisa. Banyak dosen dan staf yang juga menilai positif kinerja dan integritas Mas.”

       Hening beberapa detik, lalu kuhela napas panjang. Ini bukan hanya sebuah kehormatan, tapi juga amanah besar. Aku tahu tanggung jawab di posisi ini akan jauh lebih besar dibanding sekadar mengajar. Ini menyangkut manajemen akademik seluruh kampus, kurikulum, penjaminan mutu, pengelolaan dosen dan mahasiswa, serta strategi pengembangan akademik kampus ke depan.

    Sepulang dari kantor hari itu, aku bercerita pada istriku.

     “Masya Allah… Mas, aku bangga banget. Tapi jangan lupa istikharah ya, ini keputusan besar,” katanya sambil menggenggam tanganku.

     Dan malam itu, aku salat istikharah. Memohon agar diberikan jalan terbaik. Esoknya, dengan hati mantap, aku menerima tawaran itu. Resmilah aku dilantik menjadi Wakil Ketua I STBA Jakarta.

“Hidup memang tak pernah berhenti memberikan kejutan. Kadang ia hadir dalam bentuk kesulitan, kadang dalam bentuk harapan yang belum sempat kita rencanakan.”

     Seminggu sebelum tawaran menjadi Wakil Ketua datang, aku menghadapi satu keputusan besar dalam keluarga kecilku. Anak pertamaku, yang saat itu duduk di kelas 6 SD, tiba-tiba menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di pesantren. Bukan pesantren biasa, tapi pesantren modern berasrama yang cukup dikenal di Sukabumi, Jawa Barat.

      Malam itu, kami sedang makan malam sederhana di ruang tengah. Anak pertamaku, yang biasanya pendiam, tiba-tiba berkata, “Ayah, aku ingin sekolah di pesantren. Yang bisa ngafal Al-Qur’an dan belajar bahasa Arab juga…”

      Aku terdiam. Melihat matanya, aku tahu itu bukan keinginan sesaat. Istriku pun menatapku, seolah ingin bilang, “Apa pun keputusanmu, aku ikut.”

     Keesokan harinya, aku dan istriku mulai mencari informasi tentang pesantren yang dimaksud. Setelah kami berkunjung dan survei langsung ke lokasi, hati kami mantap. Suasana religius, fasilitas memadai, dan pendidikan terpadu dunia-akhirat membuat kami yakin ini tempat yang baik untuk anak kami tumbuh.

     Namun, begitu mendapatkan daftar biaya yang harus disiapkan, aku sempat menelan ludah. Biaya masuk mencapai belasan juta rupiah, belum termasuk SPP bulanan, biaya makan, perlengkapan asrama, dan uang saku. Jauh di atas penghasilan tetapku sebagai dosen yang hanya bersumber dari honor per SKS dan honor mengajar kursus di sore hari.

     Di sisi lain, aku masih menjadi guru honorer di sebuah SMP Negeri di Bekasi, tempatku mengajar setiap pagi. Penghasilan dari sana bahkan tak cukup untuk menutupi setengah dari biaya pesantren.

      Aku mulai merenung dan berdiskusi serius dengan istriku. Setelah menimbang secara matang, aku memutuskan untuk mengambil langkah besar: mengundurkan diri dari status guru honorer di SMP Negeri Kota Bekasi.

      Bukan karena aku tidak mencintai profesi mengajar di sekolah, tapi karena aku harus lebih fokus pada peran sebagai dosen tetap, dan juga memaksimalkan potensi karier di perguruan tinggi. Di sisi lain, aku percaya bahwa ketika niat untuk menuntun anak ke jalan yang lebih baik dilandasi oleh keikhlasan, Allah pasti akan cukupkan jalannya.

     Aku juga mulai menyusun ulang prioritas keuangan keluarga. Kami mengurangi pengeluaran yang tidak penting, menyisihkan sebagian honor kursus, bahkan sempat mengajukan dana simpanan koperasi sebagai anggota di SMP Negeri tempat saya mengajar untuk menambah biaya masuk pesantren.

     Beberapa hari setelah anakku resmi diterima di pesantren dan kami melunasi sebagian besar biayanya, hatiku lega sekaligus deg-degan. Aku sempat berkata dalam doa, “Ya Allah, aku sudah melangkah sejauh ini. Mohon cukupkan, tuntunlah.”

      Dan ternyata, seminggu setelah keputusan besar itu, Allah menjawab doaku dengan cara yang tak pernah aku duga. Aku ditawari untuk menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik di kampus tempatku mengabdi.

      Posisi itu bukan hanya berarti kepercayaan, tapi juga penghasilan yang lebih stabil, dan tentu menjadi tangga baru menuju cita-cita akademik yang lebih tinggi. Seolah Allah menunjukkan bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan dengan niat baik, pasti diganti dengan kebaikan yang lebih besar.

     Perjalanan sebagai pejabat struktural di dunia kampus benar-benar menantang. Aku mulai terbiasa dengan jadwal rapat yang padat, menghadapi dinamika dosen dan mahasiswa, serta mengelola program akademik. Tapi di balik semua itu, aku merasa semakin tumbuh. Ilmu manajerial, komunikasi, dan kepemimpinan semakin terasah.

      Namun, di tengah tanggung jawab itu, ada suara hati yang terus berbisik: “Bukankah kamu pernah punya cita-cita menjadi doktor?”

      Ya, gelar Doktor, bukan sekadar simbol akademik tertinggi, tapi juga kunci untuk bisa berkontribusi lebih besar dalam dunia pendidikan tinggi. Aku mulai mempertimbangkan kembali impian yang selama ini hanya kusimpan rapi.

      Suatu malam, setelah anak-anak tertidur, aku membuka laptop dan mulai mencari informasi tentang beasiswa program S3 di perguruan tinggi negeri di Jakarta. Hatiku tertuju pada satu nama: Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kampus besar dengan reputasi kuat dalam bidang Pendidikan di mana saya mendapatkan gelar Magister di kampus tersebut.

      Tak lama, aku mulai menyiapkan berkas, menyusun proposal riset, dan mempersiapkan diri untuk tes masuk. Dalam hati, aku tahu tantangan akan jauh lebih besar: pekerjaan struktural, mengajar, menjadi ayah, dan kini menjadi mahasiswa doktoral. Tapi aku percaya, Allah tidak akan menempatkanku di situasi ini jika tidak mampu menjalaninya.

     Ketika pengumuman hasil seleksi masuk keluar, aku mengecek dengan jantung berdebar. Dan… Alhamdulillah, namaku tercantum di antara peserta yang diterima sebagai mahasiswa S3 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di UNJ.

      Hari itu, aku menatap langit pagi Bekasi dengan penuh syukur. “Ya Allah, dari dusun kecil yang dulu tak bisa ambil rapor karena tunggakan SPP, kini Engkau izinkan hamba-Mu ini menjadi kandidat doktor.”

      Aku pun melangkah ke kampus baru bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi juga sebagai wakil ketua kampus dan kepala keluarga. Hari-hariku kini dipenuhi dengan rapat, perkuliahan, membaca jurnal, mendampingi anak belajar, serta tetap menjaga komunikasi harmonis dengan istri.

      Hidup memang semakin padat, tapi hatiku penuh. Karena setiap hari, aku tahu aku sedang menembus batas yang dulu kuanggap mustahil.

      Dan seperti biasa, aku tidak berjalan sendiri. Ada doa dan dukungan istri dan anak-anak di rumah, dan keyakinan bahwa ilmu yang dicari bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk mengangkat derajat orang lain.

      “Bagian ini memperkuat narasi bahwa langkah-langkah Trisno dalam hidup selalu dilandasi niat baik, tanggung jawab terhadap keluarga, dan keteguhan hati, dan bagaimana ujian hidup yang datang justru menjadi pemantik munculnya jalan-jalan baru yang penuh berkah.”

      Langkahku menuju pendidikan doktoral di Universitas Negeri Jakarta tak semudah mengisi formulir atau menyerahkan proposal riset. Meski telah dinyatakan diterima secara resmi sebagai mahasiswa Program Doktor Pendidikan Bahasa di UNJ, satu hal yang terus menjadi pikiran besarku adalah biaya studi.

      Program doktor bukan seperti S1 atau S2. Biayanya besar. Tidak hanya dari sisi UKT per semester, tapi juga biaya buku, penelitian lapangan, publikasi jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta seminar ilmiah yang wajib diikuti sebelum kelulusan. Belum lagi, aku tetap harus menjalani peran sebagai ayah, suami, dosen, dan wakil ketua kampus. Pekerjaan dan tanggung jawabku sudah sangat padat.

      Namun dalam doa-doaku, aku terus berharap dan percaya:
“Kalau Engkau izinkan aku sampai di sini, Ya Allah, maka Engkau pasti cukupkan jalanku.”

Suatu hari, seorang dosen senior di kampus memberitahuku bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Kemdikti Ristek) sedang membuka program beasiswa BPDN, Beasiswa Pendidikan Dalam Negeri. Program ini memang ditujukan untuk dosen tetap di perguruan tinggi, agar bisa melanjutkan studi S3 secara penuh dengan biaya ditanggung oleh pemerintah.

      Aku langsung menelusuri semua syarat dan ketentuannya. Mulai dari surat tugas belajar dari yayasan, surat rekomendasi dari pimpinan kampus, proposal riset yang solid, hingga bukti diterima di universitas tujuan. Semuanya aku persiapkan dengan teliti dan hati-hati.

      Malam-malam kulalui untuk melengkapi dokumen dan mengunggah ke sistem. Di tengah jadwal yang padat sebagai Wakil Ketua STBA, aku tetap menyempatkan waktu untuk menyusun motivational letter dan mengedit proposal disertasi sesuai standar program beasiswa.

      Proses seleksi berlangsung ketat. Ratusan bahkan ribuan dosen dari seluruh Indonesia mendaftar. Saat itu, aku tak mau terlalu berharap tinggi. Aku hanya berpikir: “Lakukan yang terbaik. Jika ini memang rezekiku, maka akan datang pada waktunya.”

      Beberapa minggu setelah pendaftaran ditutup, pengumuman penerima beasiswa pun keluar.

      Dengan jantung berdegup, aku membuka situs resmi Beasiswa BPDN Kemdiktiristek. Perlahan mataku menelusuri daftar nama yang tertera… Hingga, “BEJO SUTRISNO – Universitas Negeri Jakarta – Lolos sebagai Penerima BPDN 100%”

      Aku terpaku sejenak. Lalu tersenyum lebar, lalu menunduk haru. “Alhamdulillah Ya Allah… Engkau kabulkan satu lagi harapanku,” bisikku sambil meneteskan air mata.

      Segera aku memeluk istriku yang baru pulang dari pasar. “Masya Allah, Mas diterima beasiswanya,” ucapnya, matanya berkaca-kaca.

      Anakku yang bungsu yang masih duduk di bangku SD ikut memelukku dan bertanya polos, “Ayah sekarang jadi belajar juga ya kayak aku?” Aku hanya tertawa dan menjawab, “Iya Nak, Ayah juga sekolah lagi, tapi untuk ngajarin lebih banyak orang nanti.”

      Dengan beasiswa ini, semua biaya pendidikan S3-ku ditanggung penuh oleh negara. Aku merasa sangat bersyukur karena perjuangan panjang dari desa kecil yang serba kekurangan kini telah membuahkan hasil. Dari menjual es potong keliling kampung, kini aku resmi menjadi kandidat doktor yang didanai negara.

      Lebih dari sekadar gelar, aku merasa ini adalah amanah. Beasiswa ini harus menjadi jalan untuk membawa perubahan, baik di kampus tempatku mengabdi maupun untuk masyarakat luas.

      Dan di saat bersamaan, hatiku juga penuh harap:
Semoga kelak, kisah ini bisa menjadi penyemangat bagi anak-anak desa lain yang merasa kecil, yang merasa tak punya cukup, yang pernah putus asa, tapi tetap berani bermimpi.

      Mendapatkan beasiswa doktor adalah anugerah besar. Tapi menjalani prosesnya, itu adalah perjuangan yang tidak ringan.

      Hari-hari awal sebagai mahasiswa S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terasa penuh semangat, sekaligus penuh tantangan. Setiap mata kuliah di program doktor menuntut pemahaman mendalam dan pendekatan kritis, berbeda jauh dari jenjang sebelumnya.

      Aku bukan lagi hanya dituntut memahami teori, tapi harus mampu menganalisis, membandingkan, menyintesis, dan bahkan menggugat pemikiran-pemikiran yang sudah dianggap mapan.

      Setiap mata kuliah selalu ditutup dengan mini research, yang hasilnya harus dipresentasikan dan dituliskan dalam format artikel ilmiah. Di sinilah waktuku nyaris tersita habis. Pagi selain sebagai dosen dan wakil ketua, juga menjadi mahasiswa penuh waktu, dan tetap menjadi kepala keluarga di rumah.

      Seringkali malam menjadi waktu produktifku. Saat anak-anak telah tertidur dan rumah mulai sunyi, aku menyalakan laptop dan mulai menulis, membaca jurnal, menyusun argumen dan memeriksa referensi ilmiah. Mata perih, badan letih, tapi semangat tidak padam.

      Setelah dua semester berlalu, tantangan mulai meningkat. Aku harus menyusun proposal disertasi, penelitian paling penting sepanjang karier akademikku. Proposal ini harus melewati ujian seminar proposal di hadapan para profesor. Judul, rumusan masalah, teori dasar, hingga metodologi penelitian harus betul-betul tajam, jelas, dan bermanfaat.    Alhamdulillah, proposalku dinyatakan layak untuk dilanjutkan ke tahap penelitian.

Tahap berikutnya adalah perjalanan panjang mengumpulkan data, menganalisis, dan menyusun naskah disertasi. Aku memilih topik yang tidak hanya akademis, tapi juga dekat dengan kehidupan.

      Bulan demi bulan, aku bolak-balik dari kampus ke lokasi penelitian, mewawancarai, mengobservasi, membuat transkrip, dan menganalisis data dengan berbagai pendekatan kualitatif. Setiap lembar hasil analisis aku tulis dengan harap-harap cemas.

      Saat ujian kelayakan tiba, aku tampil dengan gugup, namun berusaha percaya diri. Para penguji memberikan berbagai masukan dan kritik yang tajam, namun membangun. Alhamdulillah, ujian kelayakan berjalan lancar dan direkomendasikan untuk revisi sebagian untuk dilanjutkan guna persiapan ujian berikutnya. Setelah draf disertasi dianggap siap, aku mengikuti ujian tertutup, yaitu sidang internal yang menguji naskah akhir disertasiku sebelum boleh maju ke ujian terbuka.

      Dan tibalah hari yang sangat aku nanti-nantikan sekaligus aku takuti: Ujian Terbuka. Hari itu aku memakai jas hitam, kemeja putih, dan dasi. Istriku mendampingi, anak-anak juga ikut hadir. Bahkan beberapa rekan dosen dan pengurus yayasan dari STBA tempatku mengajar ikut datang memberi dukungan.

      Ujian terbuka dilaksanakan di aula pascasarjana UNJ. Kursi-kursi telah disusun rapi. Beberapa profesor senior duduk di meja penguji. Undangan mulai berdatangan. Suasana penuh khidmat dan tegang.

      Aku memulai presentasi hasil penelitian disertasi selama kurang lebih 30 menit, menjelaskan latar belakang, permasalahan, metode, temuan, dan kontribusi penelitianku bagi pengembangan pembelajaran bahasa Inggris.

      Setelah itu, satu per satu penguji menyampaikan pertanyaan dan kritik. Ada yang menguji aspek teoritis, ada yang menantang metodologi, dan ada yang menyoroti signifikansi hasilnya. Aku menjawab satu per satu, mencoba tenang, jujur, dan ilmiah.

     Suasana mendebarkan berlangsung sekitar dua jam. Hingga akhirnya, salah satu penguji utama mengucapkan kalimat yang membuatku hampir menangis:
      “Berdasarkan hasil ujian terbuka ini, Saudara Bejo Sutrisno dinyatakan lulus dengan revisi minor dan berhak menyandang gelar Doktor.”

      Hadirin pun memberikan tepuk tangan. Istriku dan anak-anakku menunduk haru. Itulah hari yang tak akan pernah kulupakan. Perjalanan panjang dari dusun kecil dengan hidup serba pas-pasan kini telah membawaku pada gelar akademik tertinggi, Doktor Pendidikan. Tapi lebih dari itu, aku merasa telah membawa nama orangtuaku, istriku, anak-anakku, dan desaku hingga ke podium tertinggi dalam dunia pendidikan.

      Hari bersejarah akhirnya datang. Setelah sekian tahun perjuangan penuh peluh, begadang, doa, pengorbanan keluarga, dan dedikasi tanpa henti, aku akhirnya akan dikukuhkan sebagai Doktor Pendidikan Bahasa.

      Undangan resmi wisuda dari Universitas Negeri Jakarta sudah sampai di tangan. Tertulis: Tempat: Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta.
      Seminggu sebelum hari itu, aku sudah mulai menyiapkan semuanya. Jas hitam disetrika rapi, dasi merah disiapkan, dan toga lengkap kuterima dari panitia fakultas. Istriku juga sibuk membantu menyiapkan pakaian terbaik untuk kedua anak kami, baju batik dan sepatu kecil yang belum lama dibelikan khusus untuk momen ini.

      Malam sebelum wisuda, aku sempat duduk termenung di ruang kerja kecil di rumah. Sambil mengingat masa lalunya, Trisno kecil yang menjajakan es potong sambil menonton teman-temannya bermain kelereng. Siapa sangka, anak dusun itu kini akan naik panggung sebagai doktor.

      Pagi hari, kami berempat, aku, istriku, dan kedua anak kami, menaiki mobil Toyota Agya, mobil sederhana yang sudah menemaniku di setiap acara keluarga. Kami berangkat dari Bekasi sehabis sholat subuh, agar tidak terjebak kemacetan menuju JIEXPO Kemayoran.

      Sesampainya di lokasi, ratusan bahkan ribuan orang telah berkumpul. Suasana semarak. Foto-foto, senyum bahagia, dan toga hitam bertebaran di mana-mana.

      Aku mengenakan toga lengkap dan masuk ke barisan wisudawan program doktor. Rasanya luar biasa, ada getar haru yang sulit dijelaskan. Setelah sekian lama berjalan perlahan menapak impian, akhirnya aku sampai di titik ini.

      Acara dimulai dengan sambutan rektor dan pemutaran video pencapaian kampus. Setelah itu, satu per satu nama wisudawan dipanggil ke podium. Saat giliran program doktor tiba, suasana menjadi lebih khidmat.

     “Dengan ini kami mengukuhkan Saudara Bejo Sutrisno sebagai Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa dari Universitas Negeri Jakarta dengan predikat Sangat Memuaskan.”

      Aku maju ke depan, berjalan tegap, menunduk hormat saat diberi ucapan selamat oleh rektor, lalu menerima ijazah S3-ku.

      Suara tepuk tangan menggema. Mataku menoleh ke arah tribun penonton, aku lihat istriku berdiri sambil menepuk tangan, matanya berkaca-kaca. Anakku melambai-lambai dari jauh.

      Setelah acara selesai, kami menyempatkan untuk berfoto di pelataran JIEXPO. Aku berdiri di tengah, mengenakan toga dan selempang, anak sulungku memegangi ijazahku, dan si bungsu memeluk kaki ibunya. Satu potret keluarga yang penuh makna. Potret kemenangan atas segala perjuangan.

      Di dalam hati aku berkata, “Terima kasih, Ya Allah. Ini semua bukan karena aku hebat. Tapi karena Engkau tidak pernah meninggalkanku meski aku sering merasa tak mampu.”