CHAPTER 3
LUKA DAN SEMANGAT REMAJA

     Masa remaja bukan masa yang mudah bagiku. Saat anak-anak seusia mulai mencari jati diri, tampil keren dengan sepatu olahraga atau jam tangan baru, aku masih berjuang agar bisa tetap sekolah. Memasuki jenjang SMP, beban terasa makin berat. Jarak sekolah makin jauh, dan kebutuhan pun makin banyak, seragam baru, buku paket, biaya SPP dan yang lainnya. Tapi yang kami punya tetap sama: keterbatasan.

     Aku ingat saat pertama kali masuk SMP. Seragamku bukan baru, tapi warisan dari kakakku. Celananya kebesaran, bajunya sudah sedikit pudar warnanya. Tapi ibu menyetrikanya dengan rapi, menambal bagian yang robek, dan bilang, “Yang penting bersih dan niatnya tulus, Nak.”

     Hari-hari di SMP kadang terasa asing. Lingkungan mulai berubah, ada siswa dari keluarga yang lebih mampu, yang datang naik sepeda bagus atau bahkan diantar motor. Di kantin sekolah, aku sering duduk di bangku sambil menahan lapar, hanya menonton teman-teman jajan. Uang sakuku paling hanya cukup untuk beli dua butir  pisang goreng. Tapi di balik semua rasa iri itu, aku tanamkan dalam hati: jangan pernah kalah semangat hanya karena kamu tak punya apa-apa.

     Waktu itu aku masih melanjutkan berjualan es potong, kadang berganti berjualan benih atau bibit tanaman, atau pernah juga keliling jualan kotak penutup meteran Listrik, tergantung apa yang bisa aku manfaatkan untuk menambah uang saku dan kebutuhan sehari-hari. Pulang sekolah, aku langsung ganti baju dan membawa dagangan keliling. Lelah memang, tapi aku tahu, ini bukan sekadar membantu ibu, ini cara agar aku tetap bisa lanjut sekolah.

     Namun tak semua orang mengerti perjuanganku. Ada masa-masa ketika aku mulai merasa terluka oleh ejekan. Ada teman yang mengejekku “penjual keliling”, ada yang bilang aku anak orang tidak mampu, anak tukang ….. dan yang lainnya.

     Di sisi lain, justru karena luka-luka itulah, aku tumbuh jadi remaja yang keras kepala, bukan dalam arti membangkang, tapi dalam arti teguh dan pantang menyerah. Remaja yang suka ngeyel dalam artian selalu kekeh tidak pernah menyerah dengan keadaan,  Aku menulis mimpi-mimpiku di dinding kamar, di atas kertas bekas, besar-besar: “Aku ingin kuliah! Aku ingin jadi seorang guru!”

     Untuk mewujudkannya, aku mulai lebih serius belajar. Malam hari aku menyendiri di sudut rumah, ditemani lampu minyak, menyalin catatan, mengerjakan soal-soal latihan dari buku tua. Kadang rasa kantuk dan lelah datang bersamaan, tapi aku paksa diriku untuk terus bertahan.

     Satu guru yang paling berjasa di masa SMP itu adalah guru agama. Ia sering memperhatikan aku dan tahu latar belakang keluargaku. Tanpa banyak bicara, beliau kadang meminjamkan buku. Saat aku tanya kenapa, beliau hanya berkata, “Kamu punya tekad. Itu yang mahal.”

     Perkataannya sederhana, tapi membekas seumur hidupku. Karena dari beliau aku tahu, di tengah dunia yang kadang kejam terhadap anak-anak miskin, masih ada orang-orang baik yang percaya pada kekuatan mimpi.

     Tahun pertama aku masuk SMP, aku merasa seolah baru memulai babak baru dalam hidup. Tapi kenyataan itu tidak mudah. Aku sering pulang sekolah dengan perasaan berat, menahan malu dan kebingunganku sendiri. Setiap kali ada pengumuman tentang pembayaran SPP atau iuran lain, aku hanya bisa menunduk, berharap tidak ada yang menanyakan dari mana aku akan membayar.

     Tidak jarang aku merasa sangat terpinggirkan. Beberapa teman dengan mudahnya membawa uang untuk kegiatan sekolah, sementara aku harus menahan diri dan memutuskan untuk tidak ikut beberapa acara penting karena tidak mampu. Bahkan saat rapor dibagikan setiap akhir catur wulan, aku harus menunggu di luar kelas, berdiri di sudut koridor, sambil menahan hati yang perih.

     “Trisno, kamu bisa ambil rapor nanti, ya,” kata guru wali kelas, sambil menatapku dengan pandangan yang sulit kupahami. Aku hanya mengangguk, meskipun dalam hati aku merasa seperti terasingkan. Aku tahu, selama ini aku punya banyak tunggakan, dan sekolahku tidak bisa membiarkannya begitu saja.

     Setiap kali aku pulang, ibu dan bapak selalu berkata, “Bersabar, Nak. Nanti juga ada jalan.” Tapi aku tak tahu pasti kapan jalan itu akan datang. Setiap kali aku mencoba meminta uang dari bapak dan ibu, jawaban mereka selalu sama “Tunggu dulu. Nanti kalau ada rejeki, kita bayar.”

     Hari-hari itu terasa berat. Aku harus menatap teman-teman lain yang dengan bangga menunjukkan rapor mereka, sementara aku merasa seperti seorang yang terbuang. Tidak hanya rapor yang tak bisa kuambil, tapi juga rasa percaya diriku perlahan hilang. Bahkan saat kenaikan kelas tiba, aku merasa kosong. Tanpa rapor di tangan, tanpa bisa merasakan keberhasilan itu sepenuhnya. Aku pun tidak tahu apakah aku akan lulus dengan nilai yang cukup baik untuk melanjutkan ke SMA.

     Namun, keajaiban itu datang tidak diduga. Di akhir tahun ajaran, setelah melalui berbulan-bulan penuh kecemasan, aku menerima kabar yang membuat hatiku terkejut. Ibu dan bapak akhirnya bisa mengumpulkan cukup uang untuk membayar tunggakan SPP. Meskipun sudah sangat terlambat, aku dipanggil untuk mengambil rapor dan ijazah.

      Saat aku memegang ijazah di tangan, aku merasa sangat terharu. Aku melihat raporku yang sudah penuh dengan tanda tangan, nilai-nilai yang meskipun tidak sempurna, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa aku tidak menyerah. Aku tak bisa menahan air mata yang mengalir, bukan hanya karena rasa bangga, tetapi juga karena segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang tuaku.

     Setelah itu, aku bisa tersenyum pada teman-teman yang lain. Mereka yang dulu selalu memperhatikan rapor, kini turut bangga melihat aku dengan ijazah di tangan. Mungkin mereka tidak tahu betapa berat perjuanganku, tetapi saat itu aku merasa akhirnya bisa berdiri sejajar dengan mereka, meski jalannya penuh liku dan luka.

     Masa SMP bagiku adalah masa yang penuh perjuangan sekaligus penguat jiwa. Aku masuk SMP dengan semangat tinggi, namun tak pernah sekalipun bisa melihat rapor di setiap akhir catur wulan karena orang tuaku masih memiliki tunggakan biaya sekolah. Rapor hanya bisa aku lihat saat kelulusan, bersamaan dengan ijazah yang akhirnya diberikan setelah lunas di akhir perjuangan. Bagi sebagian anak, mungkin ini adalah luka, tapi bagiku justru menjadi bara semangat.

     Menjelang akhir SMP, aku mulai percaya bahwa aku bisa lanjut ke SMA, asal tetap gigih. Aku daftar ke SMA negeri yang terbaik di luar kecamatan karena di kecamatanku waktu itu belum ada SMA negeri, meski banyak yang bilang aku tak akan mampu bersaing. Tapi aku membuktikan sebaliknya. Dengan hasil ujian Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang cukup tinggi, aku diterima di sana. Dan saat pengumuman itu keluar, aku lihat ibu menangis diam-diam sambil menyapu lantai. Ia pikir aku tidak melihatnya. Tapi aku tahu, itu bukan air mata sedih, itu air mata haru.

     Masa remajaku penuh luka, tapi juga penuh semangat. Dan luka-luka itu kini menjadi bagian dari diriku, bukan untuk dikenang dengan rasa sakit, tapi untuk disyukuri karena telah menempaku menjadi lebih kuat.

Di tengah kesulitan itu, ibuku suatu malam menyampaikan pesan yang tak akan pernah aku lupakan. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, ibunya berkata:

     “Nak, Bapak sama Ibu gak bisa warisin kamu tanah atau harta. Satu-satunya yang bisa Ibu titipkan adalah pendidikanmu. Ibu cuma bisa sekolahkan kamu sampai SMA, mudah-mudahan ilmu itu jadi jembatan. Bukan supaya kamu jadi orang kaya, tapi supaya kamu bisa angkat derajat keluarga dan bisa bermanfaat buat agama dan bangsa.”

     Kalimat itu menancap dalam di hatiku. Di balik kesederhanaan hidup mereka, ibu menunjukkan pandangan yang luar biasa jauh ke depan. Itulah saat pertama kalinya aku benar-benar memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan atau penghasilan, tetapi tentang tanggung jawab moral, tentang memperbaiki keadaan, dan menjadi jalan manfaat bagi banyak orang.

     Pesan itu menjadi pelita yang menyala dalam dirinya, bahkan ketika harus berjalan kaki ke sekolah, membantu pekerjaan rumah, atau berjualan es potong di tengah terik matahari. Aku percaya, jika aku tidak menyerah, Allah akan membuka jalan. Dan jalan itu dimulai dari pesan sederhana seorang ibu yang besar hatinya, meski kecil kemampuan finansialnya.